Posts Tagged ‘Jalan-jalan’

Yang Syur, Jangan Porno Duluan

Mass Rapid Transit (MRT), satu sore yang menggigil oleh udara ber-AC. Saya salah tingkah sendiri menyaksikan adegan syur tepat di tempat duduk depan saya: Seorang pria 30-an memeluk erat kekasihnya yang saya taksir sama usia. Keduanya sama-sama berdiri. Bibirnya liar mengurapi leher dan wajah sang pacar. Tangannya melingkar erat di perut si wanita yang merelakan diri diperlakukan apa saja. Sesekali bahkan, si wanita memperbaiki letak tangan si lelaki untuk ditaruh di bagian tubuhnya sendiri. Seolah meminta sang lelaki lebih erat mendekapnya.
Read the rest of this entry »

Incoming search terms for the article:

Telepon Umum

Pria India itu terlihat asyik berbicara di satu dari enam deret telepon umum yang terpasang di depan dinding mall The Verge. Salah satu mal di kawasan Little India. Terlihat asyik sekali ia berbicara dengan bahasa Tamil. Konsentrasi saya ketika berburu foto pada akhir Maret lalu sedikit tergoda dengan cerocosan bahasa Tamil itu: Bahasa yang unik, dengan penuturnya yang harus berbicara cepat seolah tanpa jeda. Nyerocos kencang seperti laju mobil Formula 1.
Read the rest of this entry »

Incoming search terms for the article:

Tapis yang tak Lagi Gratis

Acara piknik kami sepekan lalu di Pantai Changi “diganggu” oleh kemunculan pendekar bakau. Si pendekar itu, dengan keperkasaannya yang sulit dimiliki kebanyakan orang Singapura – bahkan yang rutin fitnes sekalipun – memanggul sejala besar tapis. Saya taksir mungkin beratnya mencapai 50-an kilo. Tapi, seolah tak ada sedikitpun rasa berat meraut di wajahnya.
Read the rest of this entry »

Tiga Dolar Empatpuluh Sen

Dengan ramah, sopir taksi pria paruh baya itu menerima pecahan sepuluh dolar dari saya. Dengan gerakan cekatan yang terukur, dia kemudian membuka kotak uang yang ditaruh di sampingnya. Mengambil selembar uang pecahan dua dolar, sebiji logam satu dolar, dan dua logam pecahan duapuluh sen. Ada suara gemerincing gurih ketika dia mengambil dan memilah-milah uang kembalian total tiga dolar empatpuluh sen yang kemudian diberikan pada saya.
Read the rest of this entry »

Incoming search terms for the article:

Kemping dan Sepakbola

Satu pertanyaan bos saya yang sepekan terakhir ini menggelitik saya untuk mencari jawabannya. Kenapa pemain-pemain sepakbola tim nasional Singapura didominasi orang Melayu? Mungkin karena bos saya yang Melayu itu penggemar berat sepakbola, dan saya juga penanggungjawab halaman olahraga di POSMETRO. Tapi, pertanyaan itu sungguh sulit saya jawab. Setidaknya butuh riset kecil-kecilan untuk mengetahui kenapa orang Melayu Singapura gemar sepakbola? Kenapa orang Tionghoa lebih mentereng prestasinya di badminton atau tenis meja? Kenapa…, kenapa…, kenapa…, jawabannya tentu tidak bisa sangat sederhana. Read the rest of this entry »

Incoming search terms for the article: