<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>posmetrobatam.com &#187; Batam</title>
	<atom:link href="http://blog.posmetrobatam.com/tag/batam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.posmetrobatam.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 15:09:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kisah Pemerkosa Bermotor dan Polisi &#8220;Siput&#8221; Batam</title>
		<link>http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/</link>
		<comments>http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 06:29:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay Soultan]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.posmetrobatam.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi POSMETRO Batam tidak mengada-ada! Ketika pertama kali POSMETRO menggunakan frasa &#8220;Pemerkosa Bermotor (Mio Merah)&#8221; di penerbitan edisi 16 April 2009 yang merujuk pada kasus perkosaan Y, seorang bocah 10 tahun warga Perumahan Legenda Malaka, publik Batam masih menganggap itu peristiwa perkosaan biasa. Sepekan setelah Y diperkosa dan polisi tidak melakukan apa-apa &#8211; bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekali lagi POSMETRO Batam tidak mengada-ada! Ketika pertama kali POSMETRO menggunakan frasa &#8220;Pemerkosa Bermotor (Mio Merah)&#8221; di penerbitan edisi 16 April 2009 yang merujuk pada kasus perkosaan Y, seorang bocah 10 tahun warga Perumahan Legenda Malaka, publik Batam masih menganggap itu peristiwa perkosaan biasa. Sepekan setelah Y diperkosa dan polisi tidak melakukan apa-apa &#8211; bahkan datang ke tempat perkosaan empat hari setelah peristiwa &#8211; POSMETRO justru dianggap mengada-ada. Koran merah yang doyan bersensasi ria, membungakatakan peristiwa-peristiwa perkosaan menjadi sensasi.<br />
<span id="more-73"></span><br />
Tapi kami menulis sesuai fakta. Ketika tiga bulan berikutnya, 31 Agustus 2009, seorang bocah berinsial RPK kembali menjadi korban &#8220;Pemerkosa Bermotor&#8221;, polisi Batam masih leha-leha. Sejumlah kilah mereka katakan bahwa itu hanya perkosaan biasa. Bahkan ketika POSMETRO menunjukkan sejumlah modus dan motif yang sama antara kasus perkosaan yang menimpa Y dan RPK, polisi masih tidak percaya. Si &#8220;Pemerkosa Bermotor&#8221; pun kian menggila.  </p>
<p>Kegilaan menjadi-jadi. Tiga hari setelah RPK diperkosa di hutan Nongsa, giliran L, bocah 9 tahun diperkosa di Bengkongsadai. POSMETRO yang mencoba meyakinkan polisi &#8211; juga masyarakat &#8211; bahwa ada benang merah di antara semua kejadian itu, justru dianggap koran cabul yang mengada-ada. Lima hari kemudian, jatuh korban berikutnya. A, seorang gadis berusia 6 tahun warga Bengkong, diperkosa di Kampung Nanas, Batamcentre. Yang terakhir ini sangat sadis.</p>
<p>Dengan menumpang motor, A dibawa ke sebuah rumah liar di daerah Kampung Nanas. Di sana ia diperkosa dan ditinggal begitu saja. Satu hari-satu malam A menggigil kedinginan sekaligus ketakutan di gubug reot tanpa ada satupun orang yang menolong. Beruntung di hari berikutnya ada pemulung datang dan mendengar tangisannya. A terselamatkan. Ironisnya, trauma berat A akibat perkosaan itu tak menggoyahkan keyakinan polisi bahwa mungkin bocah-bocah di atas diperkosa orang yang sama. </p>
<p>Di antara keengganan koran-koran lain memberitakan kasus perkosaan berantai ini, POSMETRO tetap gencar memblow-up berita &#8220;Pemerkosa Bermotor&#8221;. Bahkan kasus A sempat disembunyikan oleh polisi, dan koran-koran terbitan Batam baru mau memberitakan setelah POSMETRO terang-terangan menyatakan &#8220;perang&#8221; terhadap &#8220;Pemerkosa Bermotor&#8221; dan juga kerja polisi yang seperti jalan siput. Itupun berita mereka kecil dan sekali lagi: POSMETRO dianggap koran cabul karena memberitakan perkosaan.</p>
<p>Logika yang amburadul memang. Memberitakan perkosaan dengan sejumlah fakta malah dibilang koran cabul. Sementara koran-koran lain yang gemar memberitakan kebohongan omongan pejabat malah dianggap koran keren dan bermutu.  </p>
<p>Hingga kemudian tanggal 15 September, NS, bocah 6 warga Bengkong Swadaya menjadi korban perkosa berikutnya. Disusul kemudian PA, gadis 9 tahun yang diperkosa pada tanggal 29 September di hutan dekat Bandara. Tapi polisi seperti masih ogah serius bekerja. Batam yang wilayahnya seuplik ini, seharusnya bukan menjadi tempat leluasa bagi pemerkosa untuk beraksi hingga memakan enam korban. Bandingkan dengan luas dan banyaknya penduduk di Bali. Namun Muhammad Davis Suharto, pemerkosa di Bali dan Batam, berhasil ditangkap hanya dalam tempo waktu tak kurang dari dua bulan. Di Batam, enam bulan &#8220;Pemerkosa Bermotor&#8221; malang-melintang, polisi malah ngotot kasus &#8220;Pemerkosa Bermotor&#8221; bukanlah kasus yang perlu dijadikan prioritas penyelesaian. </p>
<p>Seandainya polisi Batam bekerja seperti polisi Bali. Menyebar sketsa wajah pelaku, menggelar patroli hingga dinihari, menjaga sekolah-sekolah, mungkin tak perlu jatuh korban hingga enam orang. Tapi kini, semuanya jelas sudah terlambat. Penyesalan tak terlalu berguna memang. Tapi polisi, tolonglah bekerja dengan hati nurani!!!!</p>
<p>Oleh: <a href="http://lali-jiwo.com">Sultan Yoh</a></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="koran pos metro batam">koran pos metro batam</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="kisah para pemerkosa">kisah para pemerkosa</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="berita pos metro batam hari ini">berita pos metro batam hari ini</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="Cerita pemerkosa sadis">Cerita pemerkosa sadis</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="berita posmetro batam">berita posmetro batam</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="posmetro batam tanggal 29 agustus 2010">posmetro batam tanggal 29 agustus 2010</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="koran posmetro hari ini">koran posmetro hari ini</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="pos metro batam 30 sept 2010">pos metro batam 30 sept 2010</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="pos metro batam hari ini">pos metro batam hari ini</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/" title="pos metro tgl 1 september 2010 batam">pos metro tgl 1 september 2010 batam</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.62 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.posmetrobatam.com/2010/05/kisah-pemerkosa-bermotor-dan-polisi-siput-batam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Penting Beres, Berapa pun Jadilah</title>
		<link>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/</link>
		<comments>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 03:17:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasa Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Supir Taksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.posmetrobatam.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Sopir taksi itu kencang nyerocos soal ketidaksukaannya tentang bule ketika mengetahui saya berasal dari Batam. Sama kencangnya saat ia menyetir membawa kami sekeluarga menuju Hotel YMCA untuk bertemu dengan Aaron, sahabat kami yang seorang bule buta asal Inggris. Sabtu malam pekan lalu yang gerah, tiba-tiba saya begitu mencintai Indonesia. 
GM Boon &#8211; ini nama sopir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sopir taksi itu kencang nyerocos soal ketidaksukaannya tentang bule ketika mengetahui saya berasal dari Batam. Sama kencangnya saat ia menyetir membawa kami sekeluarga menuju Hotel YMCA untuk bertemu dengan Aaron, sahabat kami yang seorang bule buta asal Inggris. Sabtu malam pekan lalu yang gerah, tiba-tiba saya begitu mencintai Indonesia. <span id="more-56"></span><br />
GM Boon &#8211; ini nama sopir yang kebetulan saya baca di kartu pengenal di kaca depan mobil &#8211; bercerita soal pengalamannya membawa seorang bule dengan kekasihnya yang Asia. &#8221;Entah Thailand atau Indonesia, tapi yang jelas dia Asia lah. Cantik, muda. Si bule mabuk, ceweknya mabuk. Begitulah kerja mereka. Katanya rapat, tapi di night club. Sambil mabuk dan pegang-pegang perempuan,&#8221; begitulah kira-kira awal cerita Pak Boon kalau saya terjemahkan secara bebas. Saya manggut-manggut saja. &#8221;Singapura dianggap seperti sampah,&#8221; Boon menambahkan.<br />
Saya sebetulnya tak mempeduli cerita itu. Tokh di Batam, prilaku bejat bule seperti cerita Boon sering terjadi. Bukan hanya bule, apek-apek Singapura juga banyak buang &#8220;sampah&#8221; di Batam, dan kadang jauh lebih kurang ajar. Tapi, obrolan harus dilanjutkan. apalagi ketika istri di samping saya yang sibuk menenangkan si kecil, dengan isyarat matanya meminta saya untuk berbasa-basi menjawab Pak Boon. Lalu, sampai Pak Boon pada cerita tentang orang Indonesia, tentang orang Batam; dan ini yang membuat saya gembira menyimak ceritanya.<br />
&#8221;Saya dari Jawa,&#8221; jawab saya ketika Pak Boon bertanya dari mana saya berasal. &#8221;Jawa, saya suka mereka. Sopan-sopan,&#8221; sopir yang saya taksir berusia 45-an tahun itu memotong kalimat saya. Saya terkekeh, juga tersanjung. Tapi Pak Boon cepat-cepat menambahi, bahwa orang Indonesia selalu royal, gampang mengeluarkan uang, dan suka tak meminta ongkos kembalian. Hahaha&#8230;<br />
Sepengamatan saya, Pak Boon tidak salah. Jika Pembaca datang ke S&#8217;pore dan cuci mata ke butik-butik elit di sepanjang Orchird Road seperti Chanel, Prada, atau Versace; jangan kaget kalau pengunjung banyak yang nyerocos dengan bahasa Indonesia. Sementara di genggaman mereka, sudah penuh tas-tas belanjaan barang mahal. Sekali pukul, orang kaya Indonesia berani membeli kaos oblong seharga S$ 2.500 dolar! Rp17 juta cing, hanya untuk sebiji kaos oblong. Orang bule? Kalau urusan belanja, lewat&#8230; Kalau dalam bahasa Pak Boon, orang bule &#8221;pelit-pelit.&#8221;<br />
Di hotel-hotel bintang lima pun kita tak sulit mencari &#8220;orang kita&#8221;. Ketidakmampuan dan ketidakberanian bertungkus lumus dengan hal baru seperti MRT dan bus kota, membuat &#8220;orang kita&#8221; lebih royal mengeluarkan uang untuk menyewa taksi. Saya berpikir, apa enaknya datang ke negeri orang tapi tak bisa menikmati hal baru yang ada.<br />
Pak Boon menambahkan, sudah pelit, orang bule maunya seenak perut sendiri. Suka komplain dan banyak maunya. Di mata Pak Boon, orang Indonesia yang royal, kerap tampil bloon, suka diperdaya, gampang ditipu-tipu, dan suka terkesima. Sebagaimana seorang kenalan saya yang asal Malang, harus keluar duit Rp20 juta untuk membeli seperangkat kamera digital SLR yang harganya cuma Rp8 juta.<br />
Memang bukan kesalahan si pedagang kamera di Orchid Road jika kawan saya sampai harus tertipu. Ceritanya, ia dititipi anaknya yang mahasiswi jurusan komunikasi di sebuah universitas di Malang untuk membeli kamera. Sang bapak, kawan saya, buta kamera dan mau saja saat ditunjukkan trik tipu-tipu kehebatan kamera, &#8220;bisa memoto kipas sampai berhenti,&#8221; kata si pedagang seperti ditirukan kawan saya. Diperdaya hal seperti itu plus bumbu stok tinggal satu-satunya, menguaplah uang kawan saya yang bloon itu. Dan dengan berbunga-bunga, ceritalah ia soal kehebatan kamera yang baru ia beli. Sampai-sampai saya tak tega untuk mengatakan hal sesungguhnya.<br />
Kembali ke cerita Pak Boon. Entah karena saya orang Indonesia hingga dia membaik-baikkan ucapan, yang jelas di mata dia orang Indonesia sangatlah menyenangkan. Orang bule brengsek. Tapi jika alasan kebaikannya karena &#8220;orang kita&#8221; royal, saya pikir ucapan bernada rasis ini tak perlu diperdebatkan. Bukankah justru &#8220;orang kita&#8221; perlu dikasihani karena gampangnya ditipu-tipu? Ah, jika saja Pak Boon bertemu dan ngobrol dengan si bule buta Aaron, dia pasti akan menarik ucapannya bahwa semua bule brengsek.<br />
Bule Aaron buta total, tapi hobinya berkelana. Sebelum ketemu kami di Singapura, dia menghabiskan dua bulan untuk jalan-jalan keliling Australia. Seorang diri! Dengan kesulitannya, dengan keterbatasannya, Aaron tak membutuhkan guide ataupun pertolongan orang lain.<br />
Saya yang sehari sebelumnya mengantar seorang kepala dinas sehat walafiat asal Jawa keliling Singapura dan Kuala Lumpur, tiba-tiba menjadi malu sendiri. Saya merasa, orang Indonesia yang kata Pak Boon royal, sebetulnya punya alasan lain di balik keroyalan mereka. Karena kebodohan dan ketidakberanian menghadapi hal baru, mereka terpaksa royal. Mereka terpaksa hambur-hamburkan uang agar semua urusan jadi mudah. Berapa pun jadilah, asal semuanya beres, semua nyaman. Tidak mau berdebat, tidak mau bertekak, dan tidak berani memperjuangkan hak mereka. Sebagaimana kepala dinas yang saya antar yang tidak berani mengurus tiket kepulangan karena takut tidak bisa berbahasa Inggris. Padahal, petugas tiket itu semua bisa berbahasa Indonesia.<br />
Indonesia&#8230; Indonesia&#8230;, Selamat Sumpah Pemuda!</p>
<p>sultanyohe@yahoo.com</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/" title="Apakah bule pelit?">Apakah bule pelit?</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/" title="berapa buang tattoo">berapa buang tattoo</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/" title="bule pelit">bule pelit</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/" title="bule suka perempuan jawa">bule suka perempuan jawa</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/" title="butik elit">butik elit</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/" title="ditipu karena jalan sendiri di thailand">ditipu karena jalan sendiri di thailand</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/" title="pak boon">pak boon</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/" title="Posmetrobatam com">Posmetrobatam com</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.475 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/yang-penting-beres-berapa-pun-jadilah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Ah-hun dan UMK Batam</title>
		<link>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/</link>
		<comments>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 03:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasa Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.posmetrobatam.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Itulah kenapa &#8211; dalam Islam &#8211; kita diajarkan untuk menyisipkan doa mulia bagi pemimpin-pemimpin kita! Bagi pejabat-pejabat kita! Bagi penguasa negeri ini! Itu karena di tangan mereka, nasib kita, nasib keluarga kita, nasib anakcucu kita dipertaruhkan. Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah penguasa kita layak menerima doa mulia kita jika upah minimum yang mereka tetapkan tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Itulah kenapa &#8211; dalam Islam &#8211; kita diajarkan untuk menyisipkan doa mulia bagi pemimpin-pemimpin kita! Bagi pejabat-pejabat kita! Bagi penguasa negeri ini! Itu karena di tangan mereka, nasib kita, nasib keluarga kita, nasib anakcucu kita dipertaruhkan. Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah penguasa kita layak menerima doa mulia kita jika upah minimum yang mereka tetapkan tak masuk akal untuk menutup biaya hidup kebanyakan warganya?<br />
<span id="more-54"></span><br />
Kolom Rasa Singapura ini tentu bukan membahas soal layak-tidaknya sebuah doa dipanjatkan. Karena yang jelas para pemuka agama lah yang lebih tahu. Namun ketika tiap hari saya harus bergelut dengan berita-berita kriminal semisal pencurian, perampokan, jambret, hingga pembunuhan yang disebabkan minimnya upah yang sudah ditetapkan pejabat-pejabat kita yang mulia, so haruskah kita tetap memanjatkan doa untuk mereka?</p>
<p>Di Singapura, keluarga kami bertetangga dengan seorang ibu rumahtangga beranak tiga berusia 45-an tahun. Kami kerap memanggilnya Ah-hun. Dia cerewet, suka gosip, namun baik hati. Berbeda dengan kebanyakan karakter warga Singapura lainnya yang egois dan individualis, Ah-hun bisa saya katakan seorang yang sosialis: suka bertandang ke tetangga, atau sekedar nongkrong ngobrol dengan sesama ibu rumahtangga. </p>
<p>Selain aktivitas di atas, kegemaran lain Ah-hun adalah membunuh waktu luangnya dengan aktivitas kerja sampingan. Penghasilan suaminya sebagai sopir kontainer memang tak bisa dibilang sedikit, tapi wanita beranak tiga tersebut seperti tak mau berpangku tangan sebagai ibu rumahtangga saja. Ekonominya cukup, namun ia masih menerima jasa pelipatan tas dari perusahaan-perusahaan tas kertas. Setiap akhir pekan, ia juga menjadi sales minuman kesehatan yang dijual ke rumah-rumah di kompleks tempatnya ia tinggal: Hougang!</p>
<p>Penghasilan sebagai pelipat tas kertas bisa dibilang sangat memadai untuk ukuran UMK Batam (Rp 1.110.000). Dengan menyisikan waktu satu hingga dua jam untuk kerja melipat, tiap bulan Ah-hun bisa mengantongi penghasilan antara 400 hingga 700 dolar Singapura. Jika dirupiahkan, berkisar antara Rp2,5-4.5 juta. Besar bukan, untuk penghasilan profesi non-profesinal. Sebagai sales yang bekerja hanya di akhir pekan, sebulan Ah-hun bisa memanen uang sekitar 800 dolar. Untuk negera yang harga sepiring nasi hampir sama dengan di Batam, tolong, jangan bandingkan penghasilan Ah-hun dengan UMK Batam yang tiap tahun naiknya cuma seujung kuku hitam itu. Dijamin, Anda akan kecewa!!!</p>
<p>Jika harga sepiring nasi di Batam dengan Singapura tak terlalu jauh berbeda, kenapa bisa seberbeda itu penghasilan yang didapat rakyat Batam dan Singapura? Jawaban dari pertanyaan ini tentu bukan saya yang berhak menjawab. Coba tanyakan pada pemerintah, kenapa bisa begini!</p>
<p>Saya hanya hendak mengemukakan fakta, bahkan pembantu rumahtangga Indonesia di Singapura saja penghasilannya sangat dimanusiawikan Pemerintah Singapura. Pemerintah sana memutuskan &#8211; dan ini harus dipatuhi semua orang yang mempekerjakan TKI &#8211; gaji minimal adalah 750 dolar Singapura. Jika pada kelanjutannya banyak di antara TKI yang menerima upah di bawah itu, itu karena &#8220;kehebatan&#8221; cukong penyalur TKI yang menyunat hak mereka secara tak manusiawi. </p>
<p>Sekali lagi, itulah kenapa &#8211; dalam Islam &#8211; kita diajarkan untuk menyisipkan doa mulia bagi pemimpin-pemimpin kita! Namun jika para pejabat itu kemudian diperbudak para pengusaha agar UMK ditetapkan serendah mungkin &#8211; hingga kriminal merajalela &#8211; mungkin doa-doa mulia tak perlu lagi dipanjatkan untuk mereka. </p>
<p>Di Singapura, semiskin apa pun Anda yang masih bekerja, tiap tahun Anda bisa berlibur ke luar negeri! Di Batam? Duh&#8230;, tak tega saya meneruskan tulisan saya ini!</p>
<p>sultanyohe@yahoo.com</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/" title="Cerita ah ah">Cerita ah ah</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/" title="CERITA AH AH AH">CERITA AH AH AH</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/" title="penyalur tki di batam">penyalur tki di batam</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/" title="batam metropost">batam metropost</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/" title="pekerjaan sampingan untuk ibu rumah tangga di batam">pekerjaan sampingan untuk ibu rumah tangga di batam</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/" title="umk batam">umk batam</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.421 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kisah-ah-hun-dan-umk-batam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Dolar Empatpuluh Sen</title>
		<link>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/</link>
		<comments>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 03:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasa Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.posmetrobatam.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Dengan ramah, sopir taksi pria paruh baya itu menerima pecahan sepuluh dolar dari saya. Dengan gerakan cekatan yang terukur, dia kemudian membuka kotak uang yang ditaruh di sampingnya. Mengambil selembar uang pecahan dua dolar, sebiji logam satu dolar, dan dua logam pecahan duapuluh sen. Ada suara gemerincing gurih ketika dia mengambil dan memilah-milah uang kembalian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan ramah, sopir taksi pria paruh baya itu menerima pecahan sepuluh dolar dari saya. Dengan gerakan cekatan yang terukur, dia kemudian membuka kotak uang yang ditaruh di sampingnya. Mengambil selembar uang pecahan dua dolar, sebiji logam satu dolar, dan dua logam pecahan duapuluh sen. Ada suara gemerincing gurih ketika dia mengambil dan memilah-milah uang kembalian total tiga dolar empatpuluh sen yang kemudian diberikan pada saya.<br />
<span id="more-46"></span><br />
&#8221;Thanks&#8230;&#8221; katanya dengan ramah. Taksi baru berjalan ketika saya sudah benar-benar turun dan aman berada di pinggir jalan. Si Ken yang sejak tadi terlelap di pundak saya, tiba-tiba menggeliat bangun. Memandangi taksi yang berlalu meninggalkan kami. Ketika itu, akhir pekan kemarin, kami berdua baru saja pulang dari menghadiri ulangtahun nenek istri saya di Ang Mo Kio. </p>
<p>Saya pulang duluan dengan Ken yang telah membikin berantakan restoran kecil tempat kami merayakan ulangtahun nenek kami. Sementara istri dan keluarga lain, melanjutkan acara makan-makan. Saya memilih menumpang taksi untuk membawa kami pulang, untuk meredakan hiperaktif anak saya yang malam itu menggila. Menumpang taksi adalah salah satu hobi utama si Ken selain menumpang bus, MRT; dan tentu saja membeli mainan mobil-mobilan. Begitu masuk ke kabin taksi, seketika si Ken kehilangan aktifitasnya. Sepanjang perjalanan, dia menempelkan wajahnya di kaca sembari memperhatikan lalu-lalang kendaraan di luar. &#8221;Bass&#8230;, damp tlack&#8230;, ven&#8230;, bas&#8230;, ca(r)ll&#8230;, oil tanke(r)ll&#8230;,&#8221; begitulah celotehan anak saya ketika matanya menangkap lalu lalang aneka jenis mobil di jalan. </p>
<p>Sebelum kemudian kelelahan dan tertidur di pangkuan saya, dan bangun begitu keluar dari taksi. &#8221;Bye-bye tekci,&#8221; katanya sembari memandangi terus taksi biru yang pergi meninggalkan kami. Kembalian tiga dolar empatpuluh sen saya hitung lagi. Pas, dan saya masukkan ke kantong jins saya.</p>
<p>Salah satu hal terbaik yang saya rasakan di Singapura adalah ketepatan sopir taksi dan toko-toko manapun memberikan uang kembalian. Selama saya menggunakan jasa taksi (bus dan MRT tak memakai transaksi sopir-penumpang), tak pernah sekalipun si sopir mengatakan tak punya uang kembalian. Di kotak uang mereka (ini salah satu kebiasaan asyik mereka, menaruh uang tidak di dompet), selalu tersedia uang pecahan mulai yang terkecil lima sen, hingga terbesar 50 dolar. Berapa pun uang yang Anda bayarkan asal pecahannya masuk akal, mereka selalu menyediakan uang kembalian. </p>
<p>Tanpa berharap &#8220;belas kasih&#8221; uang kembalian, sopir taksi di Singapura selalu menyodorkan uang kembalian, betapapun kecilnya kembalian itu. Perkara nanti akan diterima atau tidak, sepengalaman saya, kembalian selalu diberikan terlebih dahulu. Tidak ada cerita sopir taksi yang mengatakan &#8221;Ah ndak ada uang kembaliannya mas&#8230;,&#8221; dan dengan terpaksa kita merelakan sepuluh dua puluh ribu untuk mereka. Itupun kadang kita dapat bonus &#8220;ketidaksopanan&#8221; yang sangat menjengkelkan. Sebagaimana pengalaman saya dua pekan sebelumnya.</p>
<p>Ketika itu saya sekeluarga pulang Singapura lewat Pelabuhan Batamcenter. Menyempatkan jalan-jalan sebentar di Megamall, kami kemudian menumpang taksi dari Megamall menuju tempat tinggal kami di Perumahan Legenda. Ongkosnya Rp30ribu, dan saya setuju. Suara musik yang disetel kencang-kencang, begitu memekakkan telinga. Dua tiga kali si sopir memaki-maki sendiri (bukan pada kami) karena tak sabar dengan kendaraan di luar. Berikutnya, dengan ketidakramahan yang luar biasa membikin emosi, dia ngedumel ketika saya berikan instruksi gang-gang yang harus dilewati untuk sampai di rumah kami. Terakhir, begitu saya sodorkan uang Rp50 ribu, dengan ketidakramahan yang tetap ia pertahankan, ia mengatakan tak punya kembalian. Setelah ke sana ke mari mencari penukaran, si sopir tanpa terimakasih langsung tancap mobilnya. </p>
<p>Jangkrik&#8230;, teriak saya!</p>
<p>sultanyohe@yahoo.com</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="1 dolar singapura berapa sen y?">1 dolar singapura berapa sen y?</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="satu dolar berapa sen?">satu dolar berapa sen?</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="satu dolar berapa sen">satu dolar berapa sen</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="pecahan dollar singapore">pecahan dollar singapore</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="pecahan dolar singapura terkecil">pecahan dolar singapura terkecil</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="pecahan dolar berapa">pecahan dolar berapa</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="empatpuluh">empatpuluh</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="berapa sen 1 dollar singapura">berapa sen 1 dollar singapura</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="50 dolar logam">50 dolar logam</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/" title="taxi di singapura berapa dollar">taxi di singapura berapa dollar</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.3 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/tiga-dolar-empatpuluh-sen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemping dan Sepakbola</title>
		<link>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kemping-dan-sepakbola/</link>
		<comments>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kemping-dan-sepakbola/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 03:13:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasa Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.posmetrobatam.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Satu pertanyaan bos saya yang sepekan terakhir ini menggelitik saya untuk mencari jawabannya. Kenapa pemain-pemain sepakbola tim nasional Singapura didominasi orang Melayu? Mungkin karena bos saya yang Melayu itu penggemar berat sepakbola, dan saya juga penanggungjawab halaman olahraga di POSMETRO. Tapi, pertanyaan itu sungguh sulit saya jawab. Setidaknya butuh riset kecil-kecilan untuk mengetahui kenapa orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu pertanyaan bos saya yang sepekan terakhir ini menggelitik saya untuk mencari jawabannya. Kenapa pemain-pemain sepakbola tim nasional Singapura didominasi orang Melayu? Mungkin karena bos saya yang Melayu itu penggemar berat sepakbola, dan saya juga penanggungjawab halaman olahraga di POSMETRO. Tapi, pertanyaan itu sungguh sulit saya jawab. Setidaknya butuh riset kecil-kecilan untuk mengetahui kenapa orang Melayu Singapura gemar sepakbola? Kenapa orang Tionghoa lebih mentereng prestasinya di badminton atau tenis meja? Kenapa&#8230;, kenapa&#8230;, kenapa&#8230;, jawabannya tentu tidak bisa sangat sederhana.<span id="more-44"></span><br />
Tapi baiklah. Pengalaman saya sebulan lalu mungkin bisa sedikit menguak jawaban bos, dan tentu semua pembaca POSMETRO yang selama ini memperhatikan betapa jauhnya sepakbola Singapura meninggalkan sepakbola kita. Sebulan lalu saya piknik ke Pantai Pasir Panjang, di Singapura, tentu saja bersama keluarga.<br />
Pantai ini salah satu pantai publik terbagus di Singapura, dan mungkin pasirnya didatangkan dari Indonesia. Pantai berpasir putih ini memanjang kira-kira tiga kilometer. Sepanjang pantai membujur taman yang asri, rindang, dengan jalan-jalan aspal untuk yang gemar bersepeda atau bersepatu roda. Setiap kira-kira 50 meter, dibangun semacam paviliun lengkap dengan tempat barbeque, tempat sampah, meja dan kursi beton yang selalu bersih terawat. Dan semua bisa dinikmati gratis tanpa satu sen pun membayar. Ayo, sebutkan pantai publik mana yang asyik di Batam? Semua yang asyik-asyik sudah dikavling oleh hotel-hotel mewah dan tempat wisata! Masyarakat umum yang juga pembayar pajak cuma kebagian pantai kotor tanpa fasilitas memadai.<br />
Di pantai: anak saya menghabiskan waktu dengan bermain pasir, istri saya selalu ada di sampingnya. Dan saya baru tersadar ketika memperhatikan nyaris semua pengguna paviliun dengan tempat barbeque-nya adalah orang Melayu. Berkelompok besar bersama maknyak, ninik-mamak, saudara sejawat, mantu, ipar, mereka mendirikan tenda, dan membawa sebekalan penuh makanan untuk kemping sehari semalam di pantai. Penuh canda, yang laki-laki biasanya cari ikan untuk kemudian hasilnya dibakar ramai-ramai. Yang muda bermain sepakbola atau layang-layang, sementara ibu-ibu dan anak gadis mereka sibuk meramu makanan, membakar sate atau ikan di tempat barbeque, dan kemudian memanggil para anggota keluarga untuk makan bersama. Mengasikkan!!!<br />
Saya penasaran dan mulai berjalan sepanjang pantai sembari iseng menghitung berapa tenda yang didirikan orang Melayu! Enambelas buah tenda, dan hanya ada satu tenda milik Tionghoa. Itupun berisi pemuda-pemuda sekolah belasan tahun yang ingin menghabiskan akhir pekan. Sekeluarga Tionghoa ataupun India biasanya datang, menikmati pantai, dan kemudian segera pulang.<br />
Seminggu setelah piknik di Pantai Pasir Panjang, saya kembali nyantei bersama keluarga di Pantai East Coast. Pemandangan yang sama saya dapati di sana: puluhan keluarga Melayu kemping dengan gembira. Begitu juga seminggu berikutnya ketika kami kembali piknik di Pantai Changi.<br />
Well, lalu apa hubungannya timnas sepakbola Singapura dengan kegemaran orang Melayu kemping. Tanpa mencoba mencari-cari jawaban mengada-ada, sepakbola adalah sebuah permainan menyenangkan dengan kerjasama tim sebagai fondasi utama. Cristiano Ronaldo yang hebat itu, jelas tak akan menjadi hebat tanpa rekan-rekan yang mendukungnya. Dan orang Melayu di Singapura punya modal itu: lingkungan keluarga yang intim yang kemudian membentuk orang mudah bekerjasama, hidup gembira, dan melihat masa depan tanpa takut.<br />
Orang Tionghoa juga India di Singapura terkenal dengan keseriusannya dan ketakutan berlebih akan masa depan. Untuk dianggap sebagai manusia, Anda yang hidup di keluarga Tionghoa &#8211; juga India &#8211; setidaknya harus lulus sekolah bagus, punya kerja bagus, tabungan cukup, rumah memadai, dan jaminan hari tua yang aman. Sepakbola &#8211; juga dunia hiburan dan musik &#8211; dianggap sebagai jalan berisiko untuk menjadi manusia Singapura yang sukses.<br />
Generasi muda Melayu Singapura dikenal suka kawin di usia muda, hidup nyantei, dan suka kawin cerai. Sebaliknya, genarasi muda Tionghoa malah takut nikah, ogah punya keturunan, dan tak sedikit yang menghabiskan usia mereka seorang diri di apartemen yang sepi. Saking ogahnya nikah dan punya keturunan, bahkan Pemerintah Singapura sampai harus membikin &#8220;Romantic Day&#8221; agar mereka mau mencari pasangan, serta membagi-bagikan bonus 3000 dolar untuk keluarga yang melahirkan seorang anak.<br />
Di lapangan-lapangan sepakbola yang tersebar di seantero Singapura, memang yang bermain bukan hanya orang Melayu. Apa pun etnis Anda, yang gemar sepakbola silahkan bermain. Di sekolah-sekolah, ekstra-kurikuler sepakbola diminati semua lapisan etnis. Sepengamatan saya, pemain-pemain Tionghoa dan India bagus-bagus, punya bentuk tubuh memadai dan fisik kuat, dan sebenarnya cukup cerdas jika mau menjadi pemain hebat. Tapi untuk berani serius menekuni sepakbola yang dianggap sebagai dunia tak serius, sepertinya hanya orang Melayu yang berani ambil resiko. Hingga kemudian, lahirlah pemain-pemain hebat seperti Fandi Ahmad (pelatih Pelita Jaya), Indra Sahdan Daud (kapten timnas), Noh Alam Shah dan Ridhuan Muhammad (keduanya Arema), Baihakki Khaizan (Persija), dll.<br />
Mungkin itulah kenapa sepakbola Melayu &#8211; juga penyanyi &#8211; didominasi orang Melayu. Karena mereka berani mengambil resiko untuk menjalani hidup lebih menyenangkan! Uang memang sangat penting, tapi jika hal itu kemudian membuat Anda sedih dan menghabiskan usia seorang diri, apalah enaknya. Sekali lagi, sepakbola dan Singapura memberi pelajaran kita akan berharganya hidup berkeluarga.</p>
<p>sultanyohe@yahoo.com</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kemping-dan-sepakbola/" title="Hotel pantai pasir panjang singapura">Hotel pantai pasir panjang singapura</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kemping-dan-sepakbola/" title="Indra sahdan bercerai">Indra sahdan bercerai</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kemping-dan-sepakbola/" title="sepak bola singapura">sepak bola singapura</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.999 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/kemping-dan-sepakbola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senapan Serbu</title>
		<link>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/</link>
		<comments>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 03:13:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasa Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.posmetrobatam.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Dengan senapan serbu yang menggantung di tubuhnya, polisi muda itu tampak gagah sekali. Ditunjang tubuh yang atletis tanpa &#8220;penyakit&#8221; timbunan lemak yang biasa diderita polisi-polisi senior, si polisi muda bersenapan serbu kerap berlalu-lalang di Megamall. Kadang berjaga di pintu masuk mal yang dihubungkan dengan jembatan pelabuhan. Tak jarang si polisi gagah bersandar di pagar lantai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan senapan serbu yang menggantung di tubuhnya, polisi muda itu tampak gagah sekali. Ditunjang tubuh yang atletis tanpa &#8220;penyakit&#8221; timbunan lemak yang biasa diderita polisi-polisi senior, si polisi muda bersenapan serbu kerap berlalu-lalang di Megamall. Kadang berjaga di pintu masuk mal yang dihubungkan dengan jembatan pelabuhan. Tak jarang si polisi gagah bersandar di pagar lantai dua sambil menghujani lantai bawahnya dengan pandangan menyelidik. Sering pula si polisi terlibat obrolan, kelakar canda tawa dengan pemilik kios yang banyak bertebaran di Megamall. Tentu saja dengan senapa serbu yang masih menggantung di tubuh.<span id="more-42"></span></p>
<p>Polisi muda itu gagah sekali. Tubuhnya bagus, perawakannya meyakinkan. Tapi apakah sebuah mal seperti Megamall perlu dijaga seorang (dua orang) polisi bersenapan serbu? Senapan serbu yang menggantung di tubuh polisi muda itu memang membuat penampilannya semakin gagah (dan sangar). Tapi gagahnya polisi bersenapan serbu itu akan lebih terasa jika seandainya ditempatkan di situasi yang membutuhkan &#8220;sangarnya&#8221; senapan serbu. Di mal seperti Megamall yang banyak dikunjungi turis mancanegara sepertinya sangat berlebihan. </p>
<p>Apa isi di benak turis mancanegara yang masuk melewati jembatan Pelabuhan Batamcenter-Megamall, jika baru masuk saja harus disapa dengan polisi gagah yang memanggul senapan serbu? Mungkin mereka mengira Indonesia &#8211; khususnya Batam &#8211; adalah daerah yang sangat tidak aman. Hingga, pusat belanja saja harus dijaga polisi bersenapan serbu. Meminjam kalimatnya Nagabonar, &#8220;Apa kata dunia&#8230;&#8221;</p>
<p>Untuk mewujudkan suksesnya Visit Batam 2010; setiap detil dari apa pun yang akan &#8220;dijual&#8221; tentu harus ditampilkan secara sempurna. Tak perlu jauh studi banding ke Belanda atau Australia jika hanya untuk belajar bagaimana menghadirkan detil yang baik akan sebuah tempat wisata. Singapura adalah contoh yang luar biasa untuk ditiru. Bagaimana sempurnanya mereka mengurus tempat wisata hingga detil transportasinya. Bagaimana jelinya mereka memberi kemudahan dan kemurahan agar para pelancong membalasnya dengan menghambur-hamburkan uang yang mereka bawa. Keamanan, tentu saja menjadi faktor utama kenapa Jiran mungil ini bisa menarik jutaan wisatawan seantero dunia. Dan di Singapura, saya tak pernah melihat sebuah mal dijaga polisi dengan senapan serbu menggantung di tubuh.</p>
<p>Kelilinglah Singapura, Anda pasti akan kesulitan menemukan seorang polisi. Sesekali memang ada segerombol polisi muda dengan pistol berantai yang keluar masuk mall dan MRT. Itu pun jika ada momen-momen besar seperti pertemuan tokoh dunia yang tergabung dalam APEC, sebulan silam. Di jalanan, jangan harap bisa menemukan polisi yang tiba-tiba menyetop kendaraan Anda, kemudian menanyai SIM atau STNK. Jangan pula mimpi bisa mendapatkan polisi yang minta &#8220;uang damai&#8221; karena lupa tak bawa SIM atau ngebut sembarangan. </p>
<p>Jalanan dan tempat-tempat keramaian di Singapura memang minim sosok polisi. Tapi jangan sekali-kali pernah melanggar hukum di sana. Sedikit saja Anda melanggar kecepatan kendaraan yang Anda pacu, sepekan kemudian surat tilang dipastikan akan datang ke rumah Anda! </p>
<p>Beberapa waktu lalu, dua pria terlibat pertengkaran di tempat parkir flat tempat tinggal saya di Hougang Avenue 8. Begitu serunya pertengkaran itu, sampai suara mereka bisa kami dengar dari lantai delapan, tempat kami tinggal. Seorang wanita berusaha melerai kedua pria tersebut, tapi gagal. Dan sebelum pertengkaran berubah menjadi perkelahian, tiga polisi sudah berada di lokasi untuk menghentikan pertengkaran. </p>
<p>Ratusan kamera CCTV yang tersebar di tempat pemukiman, jalanan, dan pusat keramaian adalah &#8220;polisi-polisi&#8221; anti-sogok yang bertebaran di jalan dan tempat keramaian Singapura. Tapi, yang paling penting tentu bukan CCTV-nya. Melainkan petugas operator yang cekatan merespon apa pun tindak pelanggaran yang terjadi. Tanpa harus tampil menakut-nakuti, ketertiban terjaga. Tanpa harus bergagah-gagah, tapi masyarakat begitu menghargai mereka.</p>
<p>Betapa cepatnya, betapa cekatannya polisi Singapura. Tapi kenapa di Indonesia, yang katanya kekurangan personil polisi tapi justru gampang kita temukan polisi nongkrong ngopi jauh lebih tidak aman ketimbang Singapura? </p>
<p>Sejumput usul saya untuk Pak Kapoltabes, bagaimana jika senapan serbu personil yang berjaga di mal-mal diganti dengan sekuntum bunga? Usul ini bukan bermaksud melecehkan. Usulan ini hanya semata mempertimbangkan, apakah tidak berlebihan sebuah mal yang notabene tempat nyante dijaga polisi gagah dengan senapan serbu? Sekuntum bunga yang terselip di dada, tentu akan lebih menebar rasa simpati. </p>
<p>sultanyohe@yahoo.com</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="senapan serbu indonesia">senapan serbu indonesia</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="senapan serbu">senapan serbu</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="SENAPAN SERBU BARU">SENAPAN SERBU BARU</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="senapa serbu M 14">senapa serbu M 14</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="Posmetrobatam com">Posmetrobatam com</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="Polisi-polisi muda">Polisi-polisi muda</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="polisi gagah">polisi gagah</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="Kisah Senapan serbu">Kisah Senapan serbu</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="jual sendstation ipod dock">jual sendstation ipod dock</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/" title="batam senapan">batam senapan</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.162 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/senapan-serbu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blok Kiri, STOP</title>
		<link>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/blok-kiri-stop/</link>
		<comments>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/blok-kiri-stop/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 03:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasa Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Lalulintas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.posmetrobatam.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Lama tak lewat Simpang Kabil, motor saya dihentikan oleh plang seadanya yang tercantol di tiang traffic light. Di plang putih itu tertulis dengan cat hitam berupa kutipan Undang-undang No 22 Tahun 2009 soal larangan belok kiri langsung. Ya, ketika itu saya yang dari arah Bandara hendak membelok ke arah Mukakuning. Dan saya terpaksa harus memberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama tak lewat Simpang Kabil, motor saya dihentikan oleh plang seadanya yang tercantol di tiang traffic light. Di plang putih itu tertulis dengan cat hitam berupa kutipan Undang-undang No 22 Tahun 2009 soal larangan belok kiri langsung. Ya, ketika itu saya yang dari arah Bandara hendak membelok ke arah Mukakuning. Dan saya terpaksa harus memberi bonus paru-paru saya yang terpaksa &#8220;menghirup&#8221; bermiligram karbon monoksida ketika harus berhenti di belakang puluhan motor yang tak lagi bisa bebas membelok ke arah kiri.<br />
<span id="more-40"></span><br />
Sejak diberlakukannya UU-22 itu, para pengguna kendaraan kini harus mengikuti lampu lalu lintas bila hendak belok kiri di persimpangan jalan yang dilengkapi dengan traffic light. Kalau lampu hijau, monggo jalan! Jika yang nyala lampu merah, silahkan berhenti! Melanggar? Siap-siaplah kena denda Rp250 ribu. Bagi saya, aturan baru ini sangat tidak ramah lingkungan, tidak ramah kesehatan, dan sangat membosankan.</p>
<p>Padahal dengan aturan lama yang mempersilahkan belok kiri jalan terus, peluang kemacetan terkurangi. Kekhawatiran akan terjadi kecelakaan, tentu hanya sebuah kekhawatiran yang melecehkan kemampuan berpikir manusia. Siapa pun pengendara motor berakal sehat yang tengah belok, pasti akan mengurangi kecepatan, dan memperhatikan kendaraan yang lain. Kecuali yang ugal-ugalan dan pengendara mabok, tentu mereka tidak mau celaka ketika berbelok ke kiri dengan kecepatan di batas kemampuan kendali. Dan terbukti, puluhan kecelakaan di traffic light, kebanyakan bukan karena belok kiri. Melainkan kecerobohan pengendara yang seenaknya menerabas lampu merah, atau yang memang berkendara dalam keadaan mabok. Bahkan lubang-lubang jalan jauh lebih berbahaya ketimbang peraturan lama belok kiri jalan terus. Jika tak percaya, tanya saja salah satu wartawan POSMETRO, Uka Suara Dinata, yang kebetulan berdinas malam dan nyaris tiap malam menjadi saksi kecelakaan-kecelakaan di traffic light. </p>
<p>Tidak ramah lingkungan dan merusak kesehatan? Ya, karena semakin Anda lama berhenti karena aturan baru itu, semakin banyak bahan bakar yang Anda konsumsi, semakin banyak polusi keluar dari knalpot, dan semakin penuh paru-paru kita menghirupnya. Apalagi bagi orang seperti saya yang hanya mampu memiliki sepeda motor.</p>
<p>So, yang menjadi pertanyaan, apa hubungannya UU baru lalu-lintas dengan rubrik Rasa Singapura ini? Apalagi saya bukan ahli lalu lintas Singapura, bukan polisi Singapura, apalagi insinyur yang mendesain lalu-lintas. Saya hanya ingin menceritakan, betapa membosankannya berkendara motor/mobil di jalan-jalan Singapura. Kebetulan anak saya, Ken, hobi naik bus, dan tiap pekan terpaksa saya harus menemani dia keliling Singapura dengan naik bus atau MRT. Tertib memang, tapi sangat-sangat membosankan! Tidak ramah lingkungan, dan bagi saya, sangat melecehkan kemampuan akan sehat manusia waras! Meski itu demi alasan keamanan.</p>
<p>Jika ke Singapura, naik bus lah dari Pelabuhan Harbour Front ke Little India. Itu jarak yang tak seberapa jauh. Jika naik kereta bawah tanah (MRT), mungkin hanya ditempun dalam waktu 10-an menit! Tapi ketika naik bus, mungkin Anda butuh waktu hampir satu jam untuk bisa sampai di Little India. Banyaknya rambu-rambu lalu lintas, menjadi faktor utama lamanya perjalanan.</p>
<p>Di Singapura, belok kiri memang boleh langsung jalan. Tapi, di persimpangan besar harus berhenti! 10 meter ke depan ada zebra cross, terpaksa berhenti! Meskipun itu yang menyebrang cuma satu orang, pengemudi kendaraan harus mengalah! Jika 20 meter di depannya lagi ada traffic light penyebrangan, harus berhenti lagi. Dan ini berlangsung nyaris di sekujur jalan Singapura. Apalagi di daerah-daerah ramai seperti Little India dan Orchird Road. Aturan tersebut memang baik. </p>
<p>Jika sudah begitu, coba hitung dan perkirakan berapa kerugian yang kita alami. Rasa bosan, jengkel, marah, itu sudah pasti. Yang lebih nyata adalah kehilangan waktu, banyaknya bahan bakar yang terbuang, hingga polusi yang ditimbulkan. Saya rasa, pemerintah Singapura tak buta akan hal itu. Untuk itulah disediakan alat-alat transportasi yang lebih cepat dan menyenangkan seperti MRT atau monorel; yang hanya berhenti di stasiun-stasiun tujuan. Jalan-jalan diperlebar. Lubang jalan dinihilkan. Dan jumlah kendaraan dibatasi (salah satunya dengan memberi pajak tinggi untuk pemilik kendaraan bermotor). Tapi tetap saja jalan raya Singapura sangat membosankan. Karena itu tadi: banyaknya traffic light yang kadang terlalu berlebihan. Ironisnya, lha kok di Batam malah muncul UU-22 yang berpotensi menambah masalah baru. </p>
<p>Mungkin ada pertimbangan lain yang tak saya pikirkan ketika UU-22 diterapkan. Tapi, logika sederhana saya mengatakan, apakah tidak sebaiknya pemerintah menihilkan lubang-lubang jalanan, memperbaiki penerangan jalan, dan membuat para pejalan kaki nyaman dengan membangun lebih banyak trotoar ketimbang larangan berbelok kiri secara langsung. Ada masalah yang lebih penting yang harus diselesaikan. Bukan malah menciptakan masalah baru.</p>
<p>sultanyohe@yahoo.com </p>
<p>Sistem ini telah diterapkan dibeberapa negara seperti dibeberapa negara bagian Amerika Serikat, di New York sebagai contoh belok kanan langsung dilarang kecuali dibolehkan dengan rambu, di Kanada dimana belok kanan langsung hanya dapat dilakukan setelah berhenti sejenak dan kalau kosong baru belok kekanan.</p>
<p>Dengan diterapkannya UU No 22 Tahun 2009 mengubah peraturan belok kiri dalam lalu lintas. Semula aturan belok kiri boleh langsung, namun dengan UU baru tersebut aturan belok kiri langsung telah dicabut. Menurut UU yang baru diberlakukan tersebut, bagi pelanggar akan ditindak tegas, ditilang dan dikenakan denda sebesar Rp 250 ribu.</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/blok-kiri-stop/" title="cerita lalulintas">cerita lalulintas</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/blok-kiri-stop/" title="kerugian dari larang belok kiri">kerugian dari larang belok kiri</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/blok-kiri-stop/" title="peraturan kendaraan belok kiri belum ditindak tegas">peraturan kendaraan belok kiri belum ditindak tegas</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/blok-kiri-stop/" title="Peraturan larangan belok kanan">Peraturan larangan belok kanan</a></li><li><a href="http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/blok-kiri-stop/" title="WWW LINTAS BATAM BLOK COM">WWW LINTAS BATAM BLOK COM</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.52 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.posmetrobatam.com/2010/04/blok-kiri-stop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
