Kisah Pemerkosa Bermotor dan Polisi “Siput” Batam

Sekali lagi POSMETRO Batam tidak mengada-ada! Ketika pertama kali POSMETRO menggunakan frasa “Pemerkosa Bermotor (Mio Merah)” di penerbitan edisi 16 April 2009 yang merujuk pada kasus perkosaan Y, seorang bocah 10 tahun warga Perumahan Legenda Malaka, publik Batam masih menganggap itu peristiwa perkosaan biasa. Sepekan setelah Y diperkosa dan polisi tidak melakukan apa-apa – bahkan datang ke tempat perkosaan empat hari setelah peristiwa – POSMETRO justru dianggap mengada-ada. Koran merah yang doyan bersensasi ria, membungakatakan peristiwa-peristiwa perkosaan menjadi sensasi.

Tapi kami menulis sesuai fakta. Ketika tiga bulan berikutnya, 31 Agustus 2009, seorang bocah berinsial RPK kembali menjadi korban “Pemerkosa Bermotor”, polisi Batam masih leha-leha. Sejumlah kilah mereka katakan bahwa itu hanya perkosaan biasa. Bahkan ketika POSMETRO menunjukkan sejumlah modus dan motif yang sama antara kasus perkosaan yang menimpa Y dan RPK, polisi masih tidak percaya. Si “Pemerkosa Bermotor” pun kian menggila.

Kegilaan menjadi-jadi. Tiga hari setelah RPK diperkosa di hutan Nongsa, giliran L, bocah 9 tahun diperkosa di Bengkongsadai. POSMETRO yang mencoba meyakinkan polisi – juga masyarakat – bahwa ada benang merah di antara semua kejadian itu, justru dianggap koran cabul yang mengada-ada. Lima hari kemudian, jatuh korban berikutnya. A, seorang gadis berusia 6 tahun warga Bengkong, diperkosa di Kampung Nanas, Batamcentre. Yang terakhir ini sangat sadis.

Dengan menumpang motor, A dibawa ke sebuah rumah liar di daerah Kampung Nanas. Di sana ia diperkosa dan ditinggal begitu saja. Satu hari-satu malam A menggigil kedinginan sekaligus ketakutan di gubug reot tanpa ada satupun orang yang menolong. Beruntung di hari berikutnya ada pemulung datang dan mendengar tangisannya. A terselamatkan. Ironisnya, trauma berat A akibat perkosaan itu tak menggoyahkan keyakinan polisi bahwa mungkin bocah-bocah di atas diperkosa orang yang sama.

Di antara keengganan koran-koran lain memberitakan kasus perkosaan berantai ini, POSMETRO tetap gencar memblow-up berita “Pemerkosa Bermotor”. Bahkan kasus A sempat disembunyikan oleh polisi, dan koran-koran terbitan Batam baru mau memberitakan setelah POSMETRO terang-terangan menyatakan “perang” terhadap “Pemerkosa Bermotor” dan juga kerja polisi yang seperti jalan siput. Itupun berita mereka kecil dan sekali lagi: POSMETRO dianggap koran cabul karena memberitakan perkosaan.

Logika yang amburadul memang. Memberitakan perkosaan dengan sejumlah fakta malah dibilang koran cabul. Sementara koran-koran lain yang gemar memberitakan kebohongan omongan pejabat malah dianggap koran keren dan bermutu.

Hingga kemudian tanggal 15 September, NS, bocah 6 warga Bengkong Swadaya menjadi korban perkosa berikutnya. Disusul kemudian PA, gadis 9 tahun yang diperkosa pada tanggal 29 September di hutan dekat Bandara. Tapi polisi seperti masih ogah serius bekerja. Batam yang wilayahnya seuplik ini, seharusnya bukan menjadi tempat leluasa bagi pemerkosa untuk beraksi hingga memakan enam korban. Bandingkan dengan luas dan banyaknya penduduk di Bali. Namun Muhammad Davis Suharto, pemerkosa di Bali dan Batam, berhasil ditangkap hanya dalam tempo waktu tak kurang dari dua bulan. Di Batam, enam bulan “Pemerkosa Bermotor” malang-melintang, polisi malah ngotot kasus “Pemerkosa Bermotor” bukanlah kasus yang perlu dijadikan prioritas penyelesaian.

Seandainya polisi Batam bekerja seperti polisi Bali. Menyebar sketsa wajah pelaku, menggelar patroli hingga dinihari, menjaga sekolah-sekolah, mungkin tak perlu jatuh korban hingga enam orang. Tapi kini, semuanya jelas sudah terlambat. Penyesalan tak terlalu berguna memang. Tapi polisi, tolonglah bekerja dengan hati nurani!!!!

Oleh: Sultan Yoh

Incoming search terms for the article:

Leave a Reply