Yang Syur, Jangan Porno Duluan
Mass Rapid Transit (MRT), satu sore yang menggigil oleh udara ber-AC. Saya salah tingkah sendiri menyaksikan adegan syur tepat di tempat duduk depan saya: Seorang pria 30-an memeluk erat kekasihnya yang saya taksir sama usia. Keduanya sama-sama berdiri. Bibirnya liar mengurapi leher dan wajah sang pacar. Tangannya melingkar erat di perut si wanita yang merelakan diri diperlakukan apa saja. Sesekali bahkan, si wanita memperbaiki letak tangan si lelaki untuk ditaruh di bagian tubuhnya sendiri. Seolah meminta sang lelaki lebih erat mendekapnya.
Jakun saya naik turun oleh adegan itu. Leher putih si wanita yang penuh noda merah oleh bekas cupang yang saya duga dibuat malam sebelumnya, sesekali terbuka ketika si wanita itu menyibakkan rambut panjangnya. Dan ketika adegan itu selesai saat MRT berhenti di Stasiun Serangoon, kok tiba-tiba saya merasa lega. Mungkin karena sudah terbebas dari salah tingkah atas adegan tersebut. Adegan kurang lebih 20 menit dalam perjalanan antara Stasiun Harbour Front ke Serangoon. Jakun saya pun tak lagi naik turun setelah keduanya sirna dari hadapan saya.
Jangan dipikir adegan di atas adalah sebuah imajinasi ataupun penggalan film-film romantis produksi Hollywood. Anda yang gemar berkeliling Singapura dengan MRT maupun bus, akan dengan mudah menyaksikan adegan semacam itu. Asyik berciuman syahwat di depan umum; wanita-wanita berbusana sangat terbuka; atau sekedar pamer bagian-bagian tubuh sensitif. Di pasar basah hingga mal mewah sekelas Paragon, dari MRT hingga sudut-sudut kumuh Singapura, semua itu gampang ditemukan. Tapi luar biasanya, saya nyaris kesulitan menemukan berita-berita pelecehan seksual atau pemerkosaan di Strait Times atau Today. Dua koran yang dilanggani keluarga saya. The New Paper, koran yang gemar menjadikan headline berita-berita kriminal semacam perkosaan bahkan kerap menjadikan berita sepakbola Liga Inggris sebagai sajian utama. Untuk mengatasi ketaktersediaan berita kriminal.
Mengutip kalimat seorang rekan saya yang pernah lama bermukim di Amerika Serikat, “Saya kaget orang sana (Singapura) cara pakaiannya jauh lebih ‘parno’ dari orang Amerika.”
Sebagai editor halaman pertama POSMETRO, tiap hari saya nyaris membaca semua berita yang masuk ke meja redaksi. Berita pelecehan seksual, perkosaan, cabul, perselingkuhan, tiap hari menjadi konsumsi saya. Kasus Pemerkosa Bermotor bahkan hingga kini sudah menelan sembilan korban. Pencabulan anak di bawah umur, atau sekedar caci-maki bermuatan syahwat hampir tiap hari terjadi di Batam. Frekuensinya kian hari kian meninggi, kian membuat miris masyarakat Batam. Orangtua mencabuli anak, si anak mengkurangajari orangtua adalah hal biasa di sini. Di kota yang bangga menyebut diri sebagai Bandar Kota Madani.
Singapura yang begitu “terbuka”, bahkan hanya punya satu kawasan prostitusi yang melegenda itu: Geylang. Di Batam? Setiap penjuru wilayah selalu punya. Saya bukan ahli kriminologi hingga tak bisa menebak kenapa hal itu bisa terjadi. Apakah masyarakat jiran jauh lebih “beriman?”
Dalam teori-teori sebab-akibat yang sering saya baca, seharusnya Singapura yang begitu glamour memamerkan kemolekan syahwat mereka, berkemungkinan menghadirkan kejahatan seksual lebih tinggi. Seharusnya koran-koran di jiran kita itu tiap hari dipenuhi berita perkosaan. Tapi kenapa justru hal itu terjadi di Batam? Institusi yang menangani kejahatan, polisi, mungkin lebih tahu jawabannya.
Sampai di sini, muncul fenomena unik yang mungkin bisa menjadi rujukan jawaban atas pertanyaan di atas. Sebagian masyarakat Singapura, justru lebih sering melakukan tindak kejahatan seksual di Batam. Pelecehan apek-apek Singapura sering dialami wanita-wanita Batam. Belum lama ini di Tanjungpinang, seorang sopir taksi Spore merekam secara sembunyi-sembunyi adegan ia bercinta dengan PSK di kamar hotel. Pertengahan tahun 2008, seorang India Spore membunuh kekasihnya yang tengah hamil tua. Tak terbilang pula pelecehan-pelecehan waitres kita oleh lelaki-lelaki Singapura yang gatal tangan di pub-pub Batam.
Kenapa mereka tidak berani melakukan di negeri mereka sedang di sini bisa seenak perut mereka? Sekali lagi, penegak hukum dan polisi yang lebih tahu jawabannya.