Yang Penting Beres, Berapa pun Jadilah
Sopir taksi itu kencang nyerocos soal ketidaksukaannya tentang bule ketika mengetahui saya berasal dari Batam. Sama kencangnya saat ia menyetir membawa kami sekeluarga menuju Hotel YMCA untuk bertemu dengan Aaron, sahabat kami yang seorang bule buta asal Inggris. Sabtu malam pekan lalu yang gerah, tiba-tiba saya begitu mencintai Indonesia.
GM Boon – ini nama sopir yang kebetulan saya baca di kartu pengenal di kaca depan mobil – bercerita soal pengalamannya membawa seorang bule dengan kekasihnya yang Asia. ”Entah Thailand atau Indonesia, tapi yang jelas dia Asia lah. Cantik, muda. Si bule mabuk, ceweknya mabuk. Begitulah kerja mereka. Katanya rapat, tapi di night club. Sambil mabuk dan pegang-pegang perempuan,” begitulah kira-kira awal cerita Pak Boon kalau saya terjemahkan secara bebas. Saya manggut-manggut saja. ”Singapura dianggap seperti sampah,” Boon menambahkan.
Saya sebetulnya tak mempeduli cerita itu. Tokh di Batam, prilaku bejat bule seperti cerita Boon sering terjadi. Bukan hanya bule, apek-apek Singapura juga banyak buang “sampah” di Batam, dan kadang jauh lebih kurang ajar. Tapi, obrolan harus dilanjutkan. apalagi ketika istri di samping saya yang sibuk menenangkan si kecil, dengan isyarat matanya meminta saya untuk berbasa-basi menjawab Pak Boon. Lalu, sampai Pak Boon pada cerita tentang orang Indonesia, tentang orang Batam; dan ini yang membuat saya gembira menyimak ceritanya.
”Saya dari Jawa,” jawab saya ketika Pak Boon bertanya dari mana saya berasal. ”Jawa, saya suka mereka. Sopan-sopan,” sopir yang saya taksir berusia 45-an tahun itu memotong kalimat saya. Saya terkekeh, juga tersanjung. Tapi Pak Boon cepat-cepat menambahi, bahwa orang Indonesia selalu royal, gampang mengeluarkan uang, dan suka tak meminta ongkos kembalian. Hahaha…
Sepengamatan saya, Pak Boon tidak salah. Jika Pembaca datang ke S’pore dan cuci mata ke butik-butik elit di sepanjang Orchird Road seperti Chanel, Prada, atau Versace; jangan kaget kalau pengunjung banyak yang nyerocos dengan bahasa Indonesia. Sementara di genggaman mereka, sudah penuh tas-tas belanjaan barang mahal. Sekali pukul, orang kaya Indonesia berani membeli kaos oblong seharga S$ 2.500 dolar! Rp17 juta cing, hanya untuk sebiji kaos oblong. Orang bule? Kalau urusan belanja, lewat… Kalau dalam bahasa Pak Boon, orang bule ”pelit-pelit.”
Di hotel-hotel bintang lima pun kita tak sulit mencari “orang kita”. Ketidakmampuan dan ketidakberanian bertungkus lumus dengan hal baru seperti MRT dan bus kota, membuat “orang kita” lebih royal mengeluarkan uang untuk menyewa taksi. Saya berpikir, apa enaknya datang ke negeri orang tapi tak bisa menikmati hal baru yang ada.
Pak Boon menambahkan, sudah pelit, orang bule maunya seenak perut sendiri. Suka komplain dan banyak maunya. Di mata Pak Boon, orang Indonesia yang royal, kerap tampil bloon, suka diperdaya, gampang ditipu-tipu, dan suka terkesima. Sebagaimana seorang kenalan saya yang asal Malang, harus keluar duit Rp20 juta untuk membeli seperangkat kamera digital SLR yang harganya cuma Rp8 juta.
Memang bukan kesalahan si pedagang kamera di Orchid Road jika kawan saya sampai harus tertipu. Ceritanya, ia dititipi anaknya yang mahasiswi jurusan komunikasi di sebuah universitas di Malang untuk membeli kamera. Sang bapak, kawan saya, buta kamera dan mau saja saat ditunjukkan trik tipu-tipu kehebatan kamera, “bisa memoto kipas sampai berhenti,” kata si pedagang seperti ditirukan kawan saya. Diperdaya hal seperti itu plus bumbu stok tinggal satu-satunya, menguaplah uang kawan saya yang bloon itu. Dan dengan berbunga-bunga, ceritalah ia soal kehebatan kamera yang baru ia beli. Sampai-sampai saya tak tega untuk mengatakan hal sesungguhnya.
Kembali ke cerita Pak Boon. Entah karena saya orang Indonesia hingga dia membaik-baikkan ucapan, yang jelas di mata dia orang Indonesia sangatlah menyenangkan. Orang bule brengsek. Tapi jika alasan kebaikannya karena “orang kita” royal, saya pikir ucapan bernada rasis ini tak perlu diperdebatkan. Bukankah justru “orang kita” perlu dikasihani karena gampangnya ditipu-tipu? Ah, jika saja Pak Boon bertemu dan ngobrol dengan si bule buta Aaron, dia pasti akan menarik ucapannya bahwa semua bule brengsek.
Bule Aaron buta total, tapi hobinya berkelana. Sebelum ketemu kami di Singapura, dia menghabiskan dua bulan untuk jalan-jalan keliling Australia. Seorang diri! Dengan kesulitannya, dengan keterbatasannya, Aaron tak membutuhkan guide ataupun pertolongan orang lain.
Saya yang sehari sebelumnya mengantar seorang kepala dinas sehat walafiat asal Jawa keliling Singapura dan Kuala Lumpur, tiba-tiba menjadi malu sendiri. Saya merasa, orang Indonesia yang kata Pak Boon royal, sebetulnya punya alasan lain di balik keroyalan mereka. Karena kebodohan dan ketidakberanian menghadapi hal baru, mereka terpaksa royal. Mereka terpaksa hambur-hamburkan uang agar semua urusan jadi mudah. Berapa pun jadilah, asal semuanya beres, semua nyaman. Tidak mau berdebat, tidak mau bertekak, dan tidak berani memperjuangkan hak mereka. Sebagaimana kepala dinas yang saya antar yang tidak berani mengurus tiket kepulangan karena takut tidak bisa berbahasa Inggris. Padahal, petugas tiket itu semua bisa berbahasa Indonesia.
Indonesia… Indonesia…, Selamat Sumpah Pemuda!
sultanyohe@yahoo.com