Ironi Pengemis dan Takdir
“… Selamat pagi takdir..apa yang kau siapkan untukku hari ini? kegagalan? keceriaan? kebencian? atau apa nih? Tolong ya, jangan permainkan aku lagi, sebab aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk menuntutmu, takdir.Bagaimana kalau aku berdoa, supaya kau-takdir-segera menemui ajalmu saja, dan doa itu dikabulkan?….”
Oleh Izulthea Petarung Sejati
Yak, baru jam tujuh malam tadi aku makan Ayam Goreng, dengan sambal khas dan lalaban hijaunya. Lalu dua jam kemudian, aku makan menu yang sama.
Ketika suapan pertama masuk kemulutku, aku bergumam, “maafkan aku anakku…”
lalu suapan kedua, juga aku berbisik lembut, “maafkan aku istriku..”.
dan disuapan ketiga, aku berhenti sejenak, memejamkan mata, lalu secepat kilat kumasukkan menu itu, kukunyah seolah aku geram….
Yah, aku geram…Geram kepada takdir tuhan.
Yang aku inginkan adalah tuhan mengabulkan keinginanku: sekedar selembar cek kertas berwarna putih-krem dan beberapa lemabr deposito. Namun, dari tadi tak kunjung kudapat hasil mengemis. Padahal, aku mengerjakan semua yang tuhan perintahkan: berdoa dan berusaha.
Uang itu, akan kubelikan bensin untuk sedan mercyku, lalu sisanya kubelikan nasi dan lauk-pauk seadanya buat anak istriku.
Aku tahu, mereka kutinggalkan tanpa uang sepeserpun disaku mereka. Tapi, kepergianku pun bukan untuk hura-hura: aku bekerja sebagai pengemis, lengkap dengan sejuta belas-kasihan diseluruh tubuhku.
Dua menu nasi lengkap dengan lauk pauknya aku dapat dengan mudah malam tadi, namun sayang, anak istriku tak menikmatinya.
Sebab, sedanku mogok, bensin kering tak mau jalan, lalu aku terpaku di tengah jalan. Sambil memegangi nasi sejuta kenikmatan tadi.
Saat itu, aku merasa seperti pengkhianat, padahal aku bukanlah sedang berkhianat. Sama seperti halnya kekasihku dulu memandangku berkhianat karena menghadirkan orang lain dalam hidupku, tapi aku tak pernah mengakui kalau aku saat itu berkhianat.
Aku tak tahu pasti, apakah anak-istriku sedang tertidur lelap, atau tetap tersiksa dengan laparnya.
Aku pengemis tak berguna.