Tiga Dolar Empatpuluh Sen

Dengan ramah, sopir taksi pria paruh baya itu menerima pecahan sepuluh dolar dari saya. Dengan gerakan cekatan yang terukur, dia kemudian membuka kotak uang yang ditaruh di sampingnya. Mengambil selembar uang pecahan dua dolar, sebiji logam satu dolar, dan dua logam pecahan duapuluh sen. Ada suara gemerincing gurih ketika dia mengambil dan memilah-milah uang kembalian total tiga dolar empatpuluh sen yang kemudian diberikan pada saya.

”Thanks…” katanya dengan ramah. Taksi baru berjalan ketika saya sudah benar-benar turun dan aman berada di pinggir jalan. Si Ken yang sejak tadi terlelap di pundak saya, tiba-tiba menggeliat bangun. Memandangi taksi yang berlalu meninggalkan kami. Ketika itu, akhir pekan kemarin, kami berdua baru saja pulang dari menghadiri ulangtahun nenek istri saya di Ang Mo Kio.

Saya pulang duluan dengan Ken yang telah membikin berantakan restoran kecil tempat kami merayakan ulangtahun nenek kami. Sementara istri dan keluarga lain, melanjutkan acara makan-makan. Saya memilih menumpang taksi untuk membawa kami pulang, untuk meredakan hiperaktif anak saya yang malam itu menggila. Menumpang taksi adalah salah satu hobi utama si Ken selain menumpang bus, MRT; dan tentu saja membeli mainan mobil-mobilan. Begitu masuk ke kabin taksi, seketika si Ken kehilangan aktifitasnya. Sepanjang perjalanan, dia menempelkan wajahnya di kaca sembari memperhatikan lalu-lalang kendaraan di luar. ”Bass…, damp tlack…, ven…, bas…, ca(r)ll…, oil tanke(r)ll…,” begitulah celotehan anak saya ketika matanya menangkap lalu lalang aneka jenis mobil di jalan.

Sebelum kemudian kelelahan dan tertidur di pangkuan saya, dan bangun begitu keluar dari taksi. ”Bye-bye tekci,” katanya sembari memandangi terus taksi biru yang pergi meninggalkan kami. Kembalian tiga dolar empatpuluh sen saya hitung lagi. Pas, dan saya masukkan ke kantong jins saya.

Salah satu hal terbaik yang saya rasakan di Singapura adalah ketepatan sopir taksi dan toko-toko manapun memberikan uang kembalian. Selama saya menggunakan jasa taksi (bus dan MRT tak memakai transaksi sopir-penumpang), tak pernah sekalipun si sopir mengatakan tak punya uang kembalian. Di kotak uang mereka (ini salah satu kebiasaan asyik mereka, menaruh uang tidak di dompet), selalu tersedia uang pecahan mulai yang terkecil lima sen, hingga terbesar 50 dolar. Berapa pun uang yang Anda bayarkan asal pecahannya masuk akal, mereka selalu menyediakan uang kembalian.

Tanpa berharap “belas kasih” uang kembalian, sopir taksi di Singapura selalu menyodorkan uang kembalian, betapapun kecilnya kembalian itu. Perkara nanti akan diterima atau tidak, sepengalaman saya, kembalian selalu diberikan terlebih dahulu. Tidak ada cerita sopir taksi yang mengatakan ”Ah ndak ada uang kembaliannya mas…,” dan dengan terpaksa kita merelakan sepuluh dua puluh ribu untuk mereka. Itupun kadang kita dapat bonus “ketidaksopanan” yang sangat menjengkelkan. Sebagaimana pengalaman saya dua pekan sebelumnya.

Ketika itu saya sekeluarga pulang Singapura lewat Pelabuhan Batamcenter. Menyempatkan jalan-jalan sebentar di Megamall, kami kemudian menumpang taksi dari Megamall menuju tempat tinggal kami di Perumahan Legenda. Ongkosnya Rp30ribu, dan saya setuju. Suara musik yang disetel kencang-kencang, begitu memekakkan telinga. Dua tiga kali si sopir memaki-maki sendiri (bukan pada kami) karena tak sabar dengan kendaraan di luar. Berikutnya, dengan ketidakramahan yang luar biasa membikin emosi, dia ngedumel ketika saya berikan instruksi gang-gang yang harus dilewati untuk sampai di rumah kami. Terakhir, begitu saya sodorkan uang Rp50 ribu, dengan ketidakramahan yang tetap ia pertahankan, ia mengatakan tak punya kembalian. Setelah ke sana ke mari mencari penukaran, si sopir tanpa terimakasih langsung tancap mobilnya.

Jangkrik…, teriak saya!

sultanyohe@yahoo.com

Incoming search terms for the article:

Leave a Reply