Telepon Umum
Pria India itu terlihat asyik berbicara di satu dari enam deret telepon umum yang terpasang di depan dinding mall The Verge. Salah satu mal di kawasan Little India. Terlihat asyik sekali ia berbicara dengan bahasa Tamil. Konsentrasi saya ketika berburu foto pada akhir Maret lalu sedikit tergoda dengan cerocosan bahasa Tamil itu: Bahasa yang unik, dengan penuturnya yang harus berbicara cepat seolah tanpa jeda. Nyerocos kencang seperti laju mobil Formula 1.
Satu menit, sepuluh menit, setengah jam, pria India itu masih terus bercengkrama ngobrol lewat telepon umum. Saya menduga, dia menelepon keluarganya di India sana. Mungkin menceritakan betapa gegap gempitanya acara karnaval Deephavali yang tengah berlangsung di jalanan Little India. Karnaval itualah yang membikin saya betah duduk lama sembari menyiapkan kamera saya. Menjepret peserta-peserta karnaval yang asyiknya naudzubillah.
Kira-kira satu jam, dia masih betah ngobrol. Bahkan ketika saya memilih pergi dari area karnaval, ia masih “bersenggama” dengan telepon umum. Betah sekali dia. Dan lebih betah lagi adalah keberadaan telepon umum yang hingga kini masih banyak bertebar di jalan-jalan Singapura.
Berbicara tentang telepon umum, ingatan saya tiba-tiba terlempar ke belakang sekitar tahun 2000-an, ketika saya gemar memanfaatkan telepon umum untuk menelepon pacar. Di tahun itu, belum ada hape di sekitar saya. Kalaupun ada, harganya selangit dan tak mungkin terjangkau seorang mahasiswa miskin seperti saya. Telepon umum dan telepon rumah, adalah sarana komunikasi paling cepat yang mengasikkan.
Tapi itu dulu. Kini, telepon umum di Batam telah almarhum. Diganti dengan murahnya ongkos bertelepon ria dengan hape. Bahkan keberadaan telepon rumah sekarang lebih banyak sebagai pajangan saja. Kalaupun dipakai, mungkin untuk jalur internet rumahan saja. Bahkan bisnis warung telekomunkasi (wartel) yang dulu begitu menjamur dan menguntungkan, kini raib entah berubah menjadi apa. Kini, mencari telepon umum yang bisa dipakai di Batam, bahkan jauh lebih sulit ketimbang membeli sebutir ekstasi. Kalaupun masih tersisa, mungkin kondisinya sudah rusak berat oleh tangan-tangan usil yang tak tahu, mereka merusak properti mereka sendiri.
Di Singapura tidak demikian. Masyarakatnya gemar memakai hape paling mutakhir, tapi telepon umum tetap mereka pakai. Kebiasaan tidak gemar memberi nomor hape kepada orang lain, membuat buku Yellow Pages masih sangat berguna untuk mencari kontak orang lain. Telepon rumah pun kerap berdering.
Di tempat-tempat umum, telepon umum juga masih gampang dicari. Telepon umum pun bisa dipakai ke luar negeri. Lagi-lagi saya menduga – tingkat privatisasi untuk tidak gemar memberikan nomor hape kepada orang lain menjadikan telepon umum sebagai alternatif yang tepat untuk tetap berkomunikasi namun tidak meninggalkan jejak. Apalagi – dan ini mungkin alasan yang paling masuk akal – di Singapura biaya telepon rumah maupun telepon umum jauh lebih murah ketimbang harus memakai telepon selular. Bukan sebaliknya seperti di Indonesia.
Di toko-toko kelontong, gampang ditemui telepon koin yang siap kita manfaatkan. Di jalanan, gampang kita temui telepon umum dengan kondisi yang bersih dan terawat, dan tentu saja berfungsi dengan baik. Sebuah cara untuk merawat hasil karya manusia bernama telepon, sekaligus sebagai bukti, bahwa rakyat Singapura begitu menghormati jejak sejarah mereka. Di sini, sekali lagi, kasus kerusuhan Mbak Priuk membuktikan bahwa kita belum bisa menghargai warisan negara ini.
sultanyohe@yahoo.com