Senapan Serbu
Dengan senapan serbu yang menggantung di tubuhnya, polisi muda itu tampak gagah sekali. Ditunjang tubuh yang atletis tanpa “penyakit” timbunan lemak yang biasa diderita polisi-polisi senior, si polisi muda bersenapan serbu kerap berlalu-lalang di Megamall. Kadang berjaga di pintu masuk mal yang dihubungkan dengan jembatan pelabuhan. Tak jarang si polisi gagah bersandar di pagar lantai dua sambil menghujani lantai bawahnya dengan pandangan menyelidik. Sering pula si polisi terlibat obrolan, kelakar canda tawa dengan pemilik kios yang banyak bertebaran di Megamall. Tentu saja dengan senapa serbu yang masih menggantung di tubuh.
Polisi muda itu gagah sekali. Tubuhnya bagus, perawakannya meyakinkan. Tapi apakah sebuah mal seperti Megamall perlu dijaga seorang (dua orang) polisi bersenapan serbu? Senapan serbu yang menggantung di tubuh polisi muda itu memang membuat penampilannya semakin gagah (dan sangar). Tapi gagahnya polisi bersenapan serbu itu akan lebih terasa jika seandainya ditempatkan di situasi yang membutuhkan “sangarnya” senapan serbu. Di mal seperti Megamall yang banyak dikunjungi turis mancanegara sepertinya sangat berlebihan.
Apa isi di benak turis mancanegara yang masuk melewati jembatan Pelabuhan Batamcenter-Megamall, jika baru masuk saja harus disapa dengan polisi gagah yang memanggul senapan serbu? Mungkin mereka mengira Indonesia – khususnya Batam – adalah daerah yang sangat tidak aman. Hingga, pusat belanja saja harus dijaga polisi bersenapan serbu. Meminjam kalimatnya Nagabonar, “Apa kata dunia…”
Untuk mewujudkan suksesnya Visit Batam 2010; setiap detil dari apa pun yang akan “dijual” tentu harus ditampilkan secara sempurna. Tak perlu jauh studi banding ke Belanda atau Australia jika hanya untuk belajar bagaimana menghadirkan detil yang baik akan sebuah tempat wisata. Singapura adalah contoh yang luar biasa untuk ditiru. Bagaimana sempurnanya mereka mengurus tempat wisata hingga detil transportasinya. Bagaimana jelinya mereka memberi kemudahan dan kemurahan agar para pelancong membalasnya dengan menghambur-hamburkan uang yang mereka bawa. Keamanan, tentu saja menjadi faktor utama kenapa Jiran mungil ini bisa menarik jutaan wisatawan seantero dunia. Dan di Singapura, saya tak pernah melihat sebuah mal dijaga polisi dengan senapan serbu menggantung di tubuh.
Kelilinglah Singapura, Anda pasti akan kesulitan menemukan seorang polisi. Sesekali memang ada segerombol polisi muda dengan pistol berantai yang keluar masuk mall dan MRT. Itu pun jika ada momen-momen besar seperti pertemuan tokoh dunia yang tergabung dalam APEC, sebulan silam. Di jalanan, jangan harap bisa menemukan polisi yang tiba-tiba menyetop kendaraan Anda, kemudian menanyai SIM atau STNK. Jangan pula mimpi bisa mendapatkan polisi yang minta “uang damai” karena lupa tak bawa SIM atau ngebut sembarangan.
Jalanan dan tempat-tempat keramaian di Singapura memang minim sosok polisi. Tapi jangan sekali-kali pernah melanggar hukum di sana. Sedikit saja Anda melanggar kecepatan kendaraan yang Anda pacu, sepekan kemudian surat tilang dipastikan akan datang ke rumah Anda!
Beberapa waktu lalu, dua pria terlibat pertengkaran di tempat parkir flat tempat tinggal saya di Hougang Avenue 8. Begitu serunya pertengkaran itu, sampai suara mereka bisa kami dengar dari lantai delapan, tempat kami tinggal. Seorang wanita berusaha melerai kedua pria tersebut, tapi gagal. Dan sebelum pertengkaran berubah menjadi perkelahian, tiga polisi sudah berada di lokasi untuk menghentikan pertengkaran.
Ratusan kamera CCTV yang tersebar di tempat pemukiman, jalanan, dan pusat keramaian adalah “polisi-polisi” anti-sogok yang bertebaran di jalan dan tempat keramaian Singapura. Tapi, yang paling penting tentu bukan CCTV-nya. Melainkan petugas operator yang cekatan merespon apa pun tindak pelanggaran yang terjadi. Tanpa harus tampil menakut-nakuti, ketertiban terjaga. Tanpa harus bergagah-gagah, tapi masyarakat begitu menghargai mereka.
Betapa cepatnya, betapa cekatannya polisi Singapura. Tapi kenapa di Indonesia, yang katanya kekurangan personil polisi tapi justru gampang kita temukan polisi nongkrong ngopi jauh lebih tidak aman ketimbang Singapura?
Sejumput usul saya untuk Pak Kapoltabes, bagaimana jika senapan serbu personil yang berjaga di mal-mal diganti dengan sekuntum bunga? Usul ini bukan bermaksud melecehkan. Usulan ini hanya semata mempertimbangkan, apakah tidak berlebihan sebuah mal yang notabene tempat nyante dijaga polisi gagah dengan senapan serbu? Sekuntum bunga yang terselip di dada, tentu akan lebih menebar rasa simpati.
sultanyohe@yahoo.com