Namamu Ahmad Izzuddin Al-Qossam

Ayah membayangkan, kau anakku, adalah petarung sejati yang benar-benar dinantikan oleh manusia.
Ayah membayangkan, kamulah nanti yang akan memimpin pasukan berbaju hitam dari timur, yang kedatangannya dinantikan sepanjang masa.
Kalaupun bukan, jadilah pengikut pasukan berbaju hitam itu.

Oleh Izulthea Petarung Sejati

Kamu harus marah kepada orang yang memanggilmu mat, mamat, atau aat. Sebab, ayah memberimu nama yang sangat bagus, dimana orang lain takut memberi nama anak mereka dengan nama itu.

Ayah sadar, resiko yang akan kamu hadapi jika kamu bernama ini. Kamu akan dicurigai!!
Kamu akan sulit bepergian keluar negeri, kendati dirimu adalah manusia terbaik sepanjang masa, anakku.

Walau kamu tak berjenggot, walau kamu tak fasih berbahasa arab, walau kamu bukan anggota pengajian yang mengaji sembunyi-sembunyi…tetap mereka akan mencurigaimu, anakku.

Tapi, ah sudahlah. Sudah sering kita dibuat sulit dengan cara seperti itu. Selalu dicurigai. Entah sama keluarga sendiri, tetangga, atau orang yang kita temui dijalan-jalan.

Anakku, ayah merasa waktu ayah sudah dekat.
Ayah takut, kamu tidak mengetahui apa yang ayah lakukan untuk kalian.
Dan ayah takut jika dikatakan ayah pergi tanpa pamit.

Pesan ayah, Jangan kalian berharap peninggalan yang dari kakek dan nenek kalian.
Sebab, semuanya sudah dikuasai dan dijual oleh saudara Ayah. Dan kalian pun jangan pernah menuntut itu. Jangan ribut. Jangan Berisik. Biarlah kita menjadi orang pinggiran.

Juga kalian jangan berpikir seperti manusia rendah, yang selalu berharap durian jatuh ke tanah. Walau ayah tidak memiliki harta benda yang bisa kalian nikmati, tapi ayah memiliki sesuatu, yang tak semua orang memilikinya.

Ayah memiliki ini, ini dan ini.
Inilah yang bisa membuat ayah bertahan dalam hidup dan kehidupan.
Ayah tak pernah memaksa kalian menjadi seperti ayah.
Tapi paling tidak, apa yang ayah lakukan bisa membuat ayah bertahan.

Kamu tahu apa yang ayah khawatirkan?
Hmmm…ayah khawatir ini adalah pelukan terakhir untukmu dan adikmu. Ayah khawatir, sinar matahari pagi yang setiap saat ayah temui dijalanan, tak muncul lagi.

Sebab, utusan tuhan sedang menunggu di persimpangan jalan itu, yang tak terlalu gelap. Dia berdiri dengan satu kaki dilipat, bersandar pada tiang penunjuk jalan, memandang ayah, dengan kunci mobil yang dia putar-putar dengan satu jari…seolah tak sabar menunggu.

————-

Jika ayah benar-benar pergi, tolong sampaikan Salam Hormat dan Ucapan Terimakasih Ayah kepada seseorang yang bernama Garis Sejajar. Dan Bilang Kepadanya: “Maaf telah membuatmu menunggu lama”
Jaga Adikmu.

Incoming search terms for the article:

Leave a Reply