Kisah Ah-hun dan UMK Batam
Itulah kenapa – dalam Islam – kita diajarkan untuk menyisipkan doa mulia bagi pemimpin-pemimpin kita! Bagi pejabat-pejabat kita! Bagi penguasa negeri ini! Itu karena di tangan mereka, nasib kita, nasib keluarga kita, nasib anakcucu kita dipertaruhkan. Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah penguasa kita layak menerima doa mulia kita jika upah minimum yang mereka tetapkan tak masuk akal untuk menutup biaya hidup kebanyakan warganya?
Kolom Rasa Singapura ini tentu bukan membahas soal layak-tidaknya sebuah doa dipanjatkan. Karena yang jelas para pemuka agama lah yang lebih tahu. Namun ketika tiap hari saya harus bergelut dengan berita-berita kriminal semisal pencurian, perampokan, jambret, hingga pembunuhan yang disebabkan minimnya upah yang sudah ditetapkan pejabat-pejabat kita yang mulia, so haruskah kita tetap memanjatkan doa untuk mereka?
Di Singapura, keluarga kami bertetangga dengan seorang ibu rumahtangga beranak tiga berusia 45-an tahun. Kami kerap memanggilnya Ah-hun. Dia cerewet, suka gosip, namun baik hati. Berbeda dengan kebanyakan karakter warga Singapura lainnya yang egois dan individualis, Ah-hun bisa saya katakan seorang yang sosialis: suka bertandang ke tetangga, atau sekedar nongkrong ngobrol dengan sesama ibu rumahtangga.
Selain aktivitas di atas, kegemaran lain Ah-hun adalah membunuh waktu luangnya dengan aktivitas kerja sampingan. Penghasilan suaminya sebagai sopir kontainer memang tak bisa dibilang sedikit, tapi wanita beranak tiga tersebut seperti tak mau berpangku tangan sebagai ibu rumahtangga saja. Ekonominya cukup, namun ia masih menerima jasa pelipatan tas dari perusahaan-perusahaan tas kertas. Setiap akhir pekan, ia juga menjadi sales minuman kesehatan yang dijual ke rumah-rumah di kompleks tempatnya ia tinggal: Hougang!
Penghasilan sebagai pelipat tas kertas bisa dibilang sangat memadai untuk ukuran UMK Batam (Rp 1.110.000). Dengan menyisikan waktu satu hingga dua jam untuk kerja melipat, tiap bulan Ah-hun bisa mengantongi penghasilan antara 400 hingga 700 dolar Singapura. Jika dirupiahkan, berkisar antara Rp2,5-4.5 juta. Besar bukan, untuk penghasilan profesi non-profesinal. Sebagai sales yang bekerja hanya di akhir pekan, sebulan Ah-hun bisa memanen uang sekitar 800 dolar. Untuk negera yang harga sepiring nasi hampir sama dengan di Batam, tolong, jangan bandingkan penghasilan Ah-hun dengan UMK Batam yang tiap tahun naiknya cuma seujung kuku hitam itu. Dijamin, Anda akan kecewa!!!
Jika harga sepiring nasi di Batam dengan Singapura tak terlalu jauh berbeda, kenapa bisa seberbeda itu penghasilan yang didapat rakyat Batam dan Singapura? Jawaban dari pertanyaan ini tentu bukan saya yang berhak menjawab. Coba tanyakan pada pemerintah, kenapa bisa begini!
Saya hanya hendak mengemukakan fakta, bahkan pembantu rumahtangga Indonesia di Singapura saja penghasilannya sangat dimanusiawikan Pemerintah Singapura. Pemerintah sana memutuskan – dan ini harus dipatuhi semua orang yang mempekerjakan TKI – gaji minimal adalah 750 dolar Singapura. Jika pada kelanjutannya banyak di antara TKI yang menerima upah di bawah itu, itu karena “kehebatan” cukong penyalur TKI yang menyunat hak mereka secara tak manusiawi.
Sekali lagi, itulah kenapa – dalam Islam – kita diajarkan untuk menyisipkan doa mulia bagi pemimpin-pemimpin kita! Namun jika para pejabat itu kemudian diperbudak para pengusaha agar UMK ditetapkan serendah mungkin – hingga kriminal merajalela – mungkin doa-doa mulia tak perlu lagi dipanjatkan untuk mereka.
Di Singapura, semiskin apa pun Anda yang masih bekerja, tiap tahun Anda bisa berlibur ke luar negeri! Di Batam? Duh…, tak tega saya meneruskan tulisan saya ini!
sultanyohe@yahoo.com