Kemping dan Sepakbola

Satu pertanyaan bos saya yang sepekan terakhir ini menggelitik saya untuk mencari jawabannya. Kenapa pemain-pemain sepakbola tim nasional Singapura didominasi orang Melayu? Mungkin karena bos saya yang Melayu itu penggemar berat sepakbola, dan saya juga penanggungjawab halaman olahraga di POSMETRO. Tapi, pertanyaan itu sungguh sulit saya jawab. Setidaknya butuh riset kecil-kecilan untuk mengetahui kenapa orang Melayu Singapura gemar sepakbola? Kenapa orang Tionghoa lebih mentereng prestasinya di badminton atau tenis meja? Kenapa…, kenapa…, kenapa…, jawabannya tentu tidak bisa sangat sederhana.
Tapi baiklah. Pengalaman saya sebulan lalu mungkin bisa sedikit menguak jawaban bos, dan tentu semua pembaca POSMETRO yang selama ini memperhatikan betapa jauhnya sepakbola Singapura meninggalkan sepakbola kita. Sebulan lalu saya piknik ke Pantai Pasir Panjang, di Singapura, tentu saja bersama keluarga.
Pantai ini salah satu pantai publik terbagus di Singapura, dan mungkin pasirnya didatangkan dari Indonesia. Pantai berpasir putih ini memanjang kira-kira tiga kilometer. Sepanjang pantai membujur taman yang asri, rindang, dengan jalan-jalan aspal untuk yang gemar bersepeda atau bersepatu roda. Setiap kira-kira 50 meter, dibangun semacam paviliun lengkap dengan tempat barbeque, tempat sampah, meja dan kursi beton yang selalu bersih terawat. Dan semua bisa dinikmati gratis tanpa satu sen pun membayar. Ayo, sebutkan pantai publik mana yang asyik di Batam? Semua yang asyik-asyik sudah dikavling oleh hotel-hotel mewah dan tempat wisata! Masyarakat umum yang juga pembayar pajak cuma kebagian pantai kotor tanpa fasilitas memadai.
Di pantai: anak saya menghabiskan waktu dengan bermain pasir, istri saya selalu ada di sampingnya. Dan saya baru tersadar ketika memperhatikan nyaris semua pengguna paviliun dengan tempat barbeque-nya adalah orang Melayu. Berkelompok besar bersama maknyak, ninik-mamak, saudara sejawat, mantu, ipar, mereka mendirikan tenda, dan membawa sebekalan penuh makanan untuk kemping sehari semalam di pantai. Penuh canda, yang laki-laki biasanya cari ikan untuk kemudian hasilnya dibakar ramai-ramai. Yang muda bermain sepakbola atau layang-layang, sementara ibu-ibu dan anak gadis mereka sibuk meramu makanan, membakar sate atau ikan di tempat barbeque, dan kemudian memanggil para anggota keluarga untuk makan bersama. Mengasikkan!!!
Saya penasaran dan mulai berjalan sepanjang pantai sembari iseng menghitung berapa tenda yang didirikan orang Melayu! Enambelas buah tenda, dan hanya ada satu tenda milik Tionghoa. Itupun berisi pemuda-pemuda sekolah belasan tahun yang ingin menghabiskan akhir pekan. Sekeluarga Tionghoa ataupun India biasanya datang, menikmati pantai, dan kemudian segera pulang.
Seminggu setelah piknik di Pantai Pasir Panjang, saya kembali nyantei bersama keluarga di Pantai East Coast. Pemandangan yang sama saya dapati di sana: puluhan keluarga Melayu kemping dengan gembira. Begitu juga seminggu berikutnya ketika kami kembali piknik di Pantai Changi.
Well, lalu apa hubungannya timnas sepakbola Singapura dengan kegemaran orang Melayu kemping. Tanpa mencoba mencari-cari jawaban mengada-ada, sepakbola adalah sebuah permainan menyenangkan dengan kerjasama tim sebagai fondasi utama. Cristiano Ronaldo yang hebat itu, jelas tak akan menjadi hebat tanpa rekan-rekan yang mendukungnya. Dan orang Melayu di Singapura punya modal itu: lingkungan keluarga yang intim yang kemudian membentuk orang mudah bekerjasama, hidup gembira, dan melihat masa depan tanpa takut.
Orang Tionghoa juga India di Singapura terkenal dengan keseriusannya dan ketakutan berlebih akan masa depan. Untuk dianggap sebagai manusia, Anda yang hidup di keluarga Tionghoa – juga India – setidaknya harus lulus sekolah bagus, punya kerja bagus, tabungan cukup, rumah memadai, dan jaminan hari tua yang aman. Sepakbola – juga dunia hiburan dan musik – dianggap sebagai jalan berisiko untuk menjadi manusia Singapura yang sukses.
Generasi muda Melayu Singapura dikenal suka kawin di usia muda, hidup nyantei, dan suka kawin cerai. Sebaliknya, genarasi muda Tionghoa malah takut nikah, ogah punya keturunan, dan tak sedikit yang menghabiskan usia mereka seorang diri di apartemen yang sepi. Saking ogahnya nikah dan punya keturunan, bahkan Pemerintah Singapura sampai harus membikin “Romantic Day” agar mereka mau mencari pasangan, serta membagi-bagikan bonus 3000 dolar untuk keluarga yang melahirkan seorang anak.
Di lapangan-lapangan sepakbola yang tersebar di seantero Singapura, memang yang bermain bukan hanya orang Melayu. Apa pun etnis Anda, yang gemar sepakbola silahkan bermain. Di sekolah-sekolah, ekstra-kurikuler sepakbola diminati semua lapisan etnis. Sepengamatan saya, pemain-pemain Tionghoa dan India bagus-bagus, punya bentuk tubuh memadai dan fisik kuat, dan sebenarnya cukup cerdas jika mau menjadi pemain hebat. Tapi untuk berani serius menekuni sepakbola yang dianggap sebagai dunia tak serius, sepertinya hanya orang Melayu yang berani ambil resiko. Hingga kemudian, lahirlah pemain-pemain hebat seperti Fandi Ahmad (pelatih Pelita Jaya), Indra Sahdan Daud (kapten timnas), Noh Alam Shah dan Ridhuan Muhammad (keduanya Arema), Baihakki Khaizan (Persija), dll.
Mungkin itulah kenapa sepakbola Melayu – juga penyanyi – didominasi orang Melayu. Karena mereka berani mengambil resiko untuk menjalani hidup lebih menyenangkan! Uang memang sangat penting, tapi jika hal itu kemudian membuat Anda sedih dan menghabiskan usia seorang diri, apalah enaknya. Sekali lagi, sepakbola dan Singapura memberi pelajaran kita akan berharganya hidup berkeluarga.

sultanyohe@yahoo.com

Incoming search terms for the article:

Leave a Reply