Dialog Pekerja dan Malaikat

Oleh Izulthea Petarung Sejati

Pekerja : Mbak Mau Kas Bon, Bisa?
Keuangan : Terus?

Pekerja diam. Kok dijawab dengan kalimat “terus”?.

Pekerja : Maksud saya, mau pinjem Uang Kas Bon…
Keuangan : Untuk apa? [suara meninggi]

Pekerja : Ya biasalah… [Pekerja keberatan merinci]
Keuangan : Iya. Tapi Langsung potong akhir bulan ya.

Pekerja terdiam.
Dia pinjam 500 ribu. Bagian keuangan meminta dibayar tunai diakhir bulan sebesar 500 ribu.
500 ribu dibayar tunai 500 ribu…
500 ribu diba…yar langsung 500 ribu…
500 ribu diba…yar lang..sung 500 ribu…
500 ribu diba…yar lang..sung 500 ri..bu…

Tangannya terkepal. Telepon itu dia banting pelan-pelan. Apa tidak ada keringanan yang lebih ringan?

Itu adalah sepenggal cerita dibalik derita sebagai pekerja.
Bekerja taat waktu, taat asas, taat atasan, penuh loyalitas serta dedikasi tinggi. Namun, hanya sekedar meringankan beban melewati tengah bulan yang sedikit menyakitkan saja dibuat sakit.

Pekerja yang sabar itu menarik ucapannya kembali. Mengurungkan niatnya memelas belas kasihan dari tempat ia bekerja. Ah, sudahlah. Toh aku masih punya tuhan.

Lalu ia mencari-cari tuhan. Dimana gerangan yang ia janjikan. Katannya,
“Mohonlah kepadaku, niscaya aku Berikan.”
Sudah dimohonkan. Namun tak kunjung datang. Seolah tuhan tak mendengar.
Jika dibilang tuli, Dia marah besar. Orang suci bilang, “kamu telah durhaka kepada tuhanmu..”

Dan ternyata tuhan tak mendengarkannya.
Lalu pekerja itu menitipkan pesan kepada dua malaikat yang selalu bersamanya:

“Tolong kalian sampaikan pesanku ini, kepada tuhanku yang juga tuhan kalian.
Bahwa, tubuhku, tubuh anakku, tubuh istriku, membutuhkan makanan untuk terus hidup. Jika tuhan tak memberiku uang untuk kubelikan makanan, maka tolong mintakan padanya, untuk mematikan sifat alamiah tubuh kami. Biarlah kami tidak makan, tapi tetap hidup. itu saja.”

“Terus terang. Tak ada niatan kami untuk menjadi kaya. Kami tidak meminta kekayaan. Kami hanya ingin hidup.Tak pernah berpikir tentang karir, rumah, mobil, deposito, bisnis, profit sharing, gengsi, martabat. Pikiran kami sangat sederhana. Sesederhana manusia hutan.”

“Jika tuhan sedang tidak sibuk, tolong sampaikan pesan ini sebelum waktu sore.
Aku tahu, kalian, malaikat, mungkin saja lelah. Tapi tolong, ini pesan yang sangat penting.Jika kalian lakukan, maka kalian telah menyelamatkan banyak nyawa. dan kalian adalah pahlawan kami…”

Pekerja terjepit. Namun pantang dia menjerit.

==========================================
Teruntuk:
Kaum pekerja, buruh pabrik, proletar, buruh cuci, tukang antar galon aqua, tenaga outsourching, kuli angkut, Cleaning Service, Pramuniaga toko pakaian dalam, Janda-janda Pekerja, buruh tanpa jamsostek dan jaminan hari tua, asongan, Office Boy, dan manusia-manusia lemah yang tak pernah berpikir karir dan jabatan…. Aku bagian dari kalian.

Incoming search terms for the article:

One Response to “Dialog Pekerja dan Malaikat”

  • dwi isnein says:

    bukan begitu cara memohon sesuatu pada Tuhan.
    Jangan samakan permohonan Tuhan dengan manusia.
    Tanpa kau sadar, ucapanmu bagai tak mengenal Tuhan, tanpa agama seperti komunis.
    ibarat pengemis yang memelas untuk dikasihani tanpa ada usaha dan doa.
    BERTOBATLAH wahai sobat…
    sebelum mati menjemputmu

Leave a Reply